Travel Fling: A Must Try for Every Travellers!

Enaknya jadi pengelana jomblo, saya punya amunisi lebih saat diteror pertanyaan menyebalkan, “Sedang apa di sini?”

“Cari jodoh,” beberapa kali saya jawab. Dengan muka serius tentunya.

Beberapa tertawa tak percaya. Sempurna. Beberapa menanggapi serius bahkan melontar pertanyaan yang lebih menyebalkan, “Cari (pasangan) seperti apa?”

Dalam bus menuju Waitabula, Sumba Barat Daya, saya berkelakar pada seorang bapak tua, “Cari istri yang cukup kaya dan nggak perlu belis*”.

Ia langsung pasang senyum datar. “Nggak lucu,” begitu mungkin pikirnya. “Rasain!” saya tertawa menang dalam hati.

Tapi mungkin karena jawaban-jawaban ngaco itulah cinta lokasi alias travel fling jadi hal yang tidak mustahil. Satu atau dua bisa jadi bersambut bahkan berlanjut.

Di kapal menuju Pulau Ende saya diajak ngobrol dengan empat orang mbak-mbak yang ternyata guru SD. Tiga orang berisik. Mbak yang satu lagi terlihat lebih diam. Matanya tajam menatap. Karena risih, saya ajak ia ngobrol.

“Kalo mbaknya guru juga?” tanya saya sesopan mungkin.

“Wah, dia sih sedang cari suami mas,” celetuk salah seorang temannya.

Saya tak lagi berani tanya. Serasa dibukakan pintu, mbak ini malah meng-KO saya dengan pertanyaan seperti, “Sudah punya istri?” atau “Gajinya berapa sebulan?”

Takut. Saya kabur ke toilet dan pindah duduk dekat bapak-bapak.

Di Bajawa, tuan rumah saya sedang kedatangan keponakannya yang masih SMA. Ia nampak tertarik dengan kamera saya. Dengan polos ia minta diajari cara pakainya.

“Pencet saja yang dalam dan lama,” kata saya tanpa pikir macam-macam.

Ia menoleh dan menunjukkan senyum – seringai – paling aneh yang pernah saya lihat. Ia makin berani. “Bisa tunjuk ke saya bagaimana (caranya)?” ia mengalungkan kamera dan mendekat. Terlalu dekat hingga saya hampir terjengkang.

“Kamu kelas tiga kan? Umur berapa sekarang?” tanya saya mengalihkan pembicaraan.

“Dua empat. Ini SMA saya yang ketiga. Yang pertama dan kedua tidak lulus.” jawabnya santai sambil menyandarkan kepalanya di dada saya.

Saya dorong dia dengan sopan sembari bilang, “Saya mau ke kamar mandi. Perut saya tiba-tiba mual.”

Di Sumba Timur, saya dikenalkan dengan ketua kelompok penenun melalui sepupunya. Karena tidak tahu jalan, sepupu ini berbaik hati menjemput saya di hotel.

Pertama kali bertatap, kami berdua senyum-senyum tidak jelas hingga lupa memperkenalkan nama masing-masing (kebetulan kami sudah tahu sebelumnya lewat sms). Selama perjalanan kami lupa ngobrol tentang tenun. Kami malah ngobrol tentang keluarga bahkan pengalaman pacaran terakhir.

Sesekali saya melempar pandang. Ia pun melakukan hal yang sama. Kami pun cengengesan. Mirip cerita sinetron anak-anak SMP dan cinta simpanse-nya.

Ketika saya diskusi dengan sepupunya, ia nampak memaksa diri ikut ngobrol padahal jelas sekali ia tidak paham. Kadang ia cuma nyeletuk, “Betul itu” atau “Seharusnya begitu.” Nggak penting. Tapi tetap terdengar menyenangkan.

Ini yang disebut cinta pada pandangan pertama? Bisa jadi. Setidaknya sampai ketika tangannya merogoh sesuatu dari tas dan mulai mengunyahnya.

Alamak. Dia mengunyah sirih pinang!

Monas dengan bata berbentuk hati berlukis wajahnya yang sedang saya bangun dalam hati pelan-pelan runtuh hingga ke dasar pondasi. Bibir yang penuh itu tak lagi mengundang. Giginya yang rapi memerah tak keruan. Puncaknya adalah ketika ia membuang ludah berwarna merah dan tersenyum lebar.

Saya terlonjak. Oh, tidak. Kenapa sirih pinang membuat mahluk yang tadinya luar biasa menarik jadi terlihat begitu menyebalkan.

Dari semua travel fling, mungkin kejadian di Rote-lah yang paling berkesan. Uniknya, bisa-bisanya saya kecantol dengan perempuan kulit hitam asal Swiss yang datang dengan pacarnya, surfer dengan badan segemuk anak sapi.

Kamarnya persis di sebelah saya. Karena sering ditinggal pacarnya surfing, saya sering kasihan dan ajak ia ngobrol bahkan pergi melihat orang membuat gula air atau ke pelelangan ikan. Bahasa Inggrisnya kacau luar biasa. Tapi ketika suatu sore kami pulang dari menyusur pantai ia bilang, “I feel good for talking with you.”

Saya tak tahu mesti jawab apa. Akhirnya saya nyeletuk, “You should say, ‘I feel good talking to you’. And yes, I do too.”

Ditemani semilir angin sore yang sejuk menembus sela-sela pohon kelapa di tepi jalan raya desa Nemberala, kami melangkah dalam diam. Tanpa sepatah kata. Saya tahu besok ia kembali ke Kupang bersama “anak sapi”-nya. Kami tahu, jalan raya ini ada ujungnya, sama seperti apa yang kami rasakan saat itu.

Ah, perjalanan seringkali memberikan hal yang tidak kita cari. Walau aneh, kadang terasa menyenangkan.

*belis = hadiah yg diberikan oleh keluarga pengantin pria ke keluarga wanita.

senyum2 baca artikel ini.
but,yeah, i did experience what so called “travel fling” but of course without the sirih pinang. ;p

Ndro…aku ngakak baca tulisanmu saat cewe sumba itu memamerkan giginya..pingsan deh kalo aku liat hahahaa..tapi,menurut aku..manusiawi aja lah..saat menikmati keindahan alam ciptaan allah,kayaknya enaknya ditemani someone yang indah pula yang diciptakan allah buat kita…semoga slogan-slogan ngaco mu saat awal perjalanan didengar malaikat..dan diberikan jodoh yang mengerti dan suka traveling seperti dirimu…amien..:)

Di tiap perjalanan, aku hampir selalu ngalamin hal kaya gini. Beberapa konyol dan sampai sekarang masih aku inget. Dulu, aku pernah diajak ndaki gunung ma temen cowokku. Dia ngajak seorang Spanyol ma adek istrinya yang orang Jerman. Kebetulan aku ma cowok Jerman nyambung klo ngobrol dan aku lebih sering jalan ma dia dibanding ma temenku. Lucunya, si cowok spanyol tahu klo temenku punya istri tapi belum pernah dikenalin ke dia. Nah, dia mikir aku tu istri temenku dan aku (juga sepupunya) selingkuh.

Yang paling nyebelin, biasanya orang mikir klo ada cewek nggak punya pacar, dia pasti nyari pacar. Dan aku sering ngalamin ketemu orang-orang yang ngarep untuk lebih dari sekadar teman.

hahaha…maaf, aku ga tau harus ketawa ato ga baca tulisan kamu ini. but, fyi, that was my genuine reaction reading your blog. makasih udah sharing di milis natrek. 😀

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.