Travelling Extends Your Limit (At Least for a While)

Belum lagi dua bulan perjalanan, tapi saya sudah kangen dengan beberapa tempat yang baru dikunjungi. Melihat-lihat foto yang sebagian besar cuma saya simpan di laptop kadang bikin senyum-senyum sendiri.

Beberapa foto bahkan menjadi saksi atas kejadian yang mungkin tidak akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari saya.

Di Bajawa saya diminta jadi fotografer dadakan untuk kampanye salah seorang paket* Pilkada kabupaten Ngada. Padahal, seumur hidup saya baru sekali ikut pemilu, itupun karena diabsen di sekolah. Selebihnya, nggak urus…

Menariknya, penduduk Bajawa (bahkan mungkin seluruh Flores) antusias sekali dengan pesta politik lokal ini.

Kopi pagi biasanya ditemani prediksi siapa yang unggul (padahal baru saja diprediksi sehari sebelumnya); teh siang ditemani jadwal kampanye paket saingan; efek sopi** malam paling pas untuk komentar tentang performa kampanye hari itu. Begitu seterusnya sampai saya akhirnya tahu kalau mau ikut nyoblos, kita harus terdaftar dulu, kirain bisa langsung datang 🙂

Melihat salah satu foto yang menangkap saya sedang manyun karena setengah dipaksa ikut deklarasi setia memilih paket itu bikin saya kangen dengan spontanitas warga desa Langa, Ngada.

Di Waerebo, di salah satu puncak gunung di Manggarai, saya harus tidur dalam gelap di dalam Mbaru Gendang*** bersama dengan puluhan warga kampung. Padahal, di rumah, saya bakal teriak-teriak atau minimal protes keras kalau saya tidak bisa lihat hidung saya ketika terbangun tengah malam. Akhirnya saya kompromi dengan main (baca: belajar main) game di handphone sampai ketiduran.

Di Sumba, saya harus “berlatih” makan sirih pinang sampai seisi perut teriak ingin keluar. Di tempat lain, saya sering risih cenderung eneg jika melihat orang mengunyah sirih. Walau tidak pernah berhasil, setidaknya saya bisa cerita “percobaan” sirih pinang saya yang tidak sukses ketika harus menolak sirih pinang yang disodorkan tuan rumah.

Di Rote saya cuma bisa cengar cengir ketika hampir tiap hari disuguhkan ikan kering**** dimasak dalam santan kental. Padahal, ikan dan santan dalam satu resep is a big no no dan gak akan pernah enak, itu prinsip saya sebelumnya. Ternyata, walau bukan favorit saya, menu ini pastinya bakal jadi yang saya rindukan di Jakarta nanti.

Kalau diingat, saya hampir tidak pernah berargumen keras ketika harus mencoba, melakukan atau mengalami itu semua. Sebaliknya, dalam diamlah saya sering mencari jawabannya. Jika mentok, biasanya saya tanyakan ke orang yang paling tepat dengan bahasa sesopan mungkin. Beberapa terjawab, sebagian besar karena “sudah tradisi”, yang buat saya, alasan yang seratus persen masuk akal.

Pagi ini, di kaki gunung Lakaan, Timor, matahari di luar sana seakan terkekeh, “jangan pernah bersumpah, perjalanan bikin kamu mengalami hal yang kamu hindari selama ini.”

Dan seperti banyak orang bilang, tak kenal maka tak sayang. Walau saya tetap tidak berminat politik, sirih pinang, tidur gelap-gelapan (dan main game handphone) dan ikan asin rasa santan, setidaknya saya bisa mentertawakan diri sendiri, “hei, saya bisa juga ternyata…”

Ajaibnya, hal-hal yang menurut saya di luar batas diri itulah yang menciptakan cerita unik dan bikin perjalanan jadi begitu personal.

/* Desa Weluli, Lakmanen, Belu, 24 Mei 2010 */

* paket: pasangan kandidat bupati dan wakil bupati, biasanya punya nick name sendiri, biar beda walau kadang terdengar nyeleneh: Roked, Mulus, Pandeta, dll.

** sopi: hasil akhir nira (kalau di Flores biasanya palem atau kelapa) yang kandungan alkoholnya paling tinggi.

*** Mbaru Gendang = rumah gendang: rumah utama Manggarai, tempat disimpannya alat musik untuk upacara adat, termasuk gendang.

**** ikan kering = ikan asin

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.