Travelling makes a difference

Ada kalanya saya kebingungan menceritakan perjalanan ke teman-teman dan keluarga apalagi jika tempat yang saya kunjungi secara visual “kurang lebih sama” dengan tempat sebelumnya.

Pantai berpasir putih, ombak bergulung, lembah hijau, padang rumput seperti karpet, air laut sejernih kaca, jalur trekking berbatu padas dan seterusnya. Menceritakan kegiatan selama perjalanan pun bukan keahlian saya karena saya lebih banyak lupa dengan rute, ongkos, nama tempat apalagi bagaimana cara sampai ke sana.

Tapi, bertemu, berinteraksi dan berdiskusi dengan penduduk dan bersentuhan dengan budaya setempat jarang bisa saya lupakan.

Saya bisa asyik ngobrol tentang panen yang kurang berhasil hingga lupa dengan semburat sunset di luar sana atau berdebat sehat dengan aparat desa hingga pukul dua belas malam tentang unit usaha desa yang paling cocok. Semuanya dalam perjalanan pribadi, dengan uang pribadi dan di waktu pribadi.

“Kenapa sih sampai segitu-gitu amat?” tanya seorang teman. “Kedengarannya kurang menikmati ya.”

Biasanya saya menjawab dengan pertanyaan lain. “Kalau tidak menikmati, ndak mungkin sampai berulang kali toh?”

Semua orang pasti setuju, travelling membawa banyak hal positif dan sedikit banyak ekses negatif pada tempat dan penduduk yang kita kunjungi. Kita merasa berhak menikmati karena kita sudah berkorban waktu dan uang, yang sebagian bahkan berkontribusi ke ekonomi setempat, begitu mungkin argumen kita. Lalu, apa bedanya kita – traveller – dengan pedagang kalau begitu?

Perjalanan sudah seharusnya menyenangkan dan membawa manfaat kepada dua belah pihak, yang mengunjungi dan dikunjungi, terlepas hubungan “dagang” itu.

Saya percaya ilmu dan pengetahuan akan bertambah jika kita mau membaginya ke mereka yang memerlukan. Terlebih, di beberapa tempat yang kita kunjungi, akses pada ilmu dan pengetahuanlah yang sangat diperlukan penduduk. Mirisnya, kadang informasi ada di desa atau kabupaten sebelah, tapi karena kurangnya akses, tidak sampai ke yang perlu.

Ketika berkunjung ke pulau Ndao, Rote kepala desa Abraham Bunga merasa perlu mendapat sebuah model koperasi untuk para penenunnya. Kebetulan ketika berkunjung ke Melolo, Sumba Timur dan Nita, Sikka, saya bertemu dengan pengelola koperasi tenun dengan model usaha yang mungkin cocok. Saya pun menghubungi kedua ketua koperasi dan minta mereka membantu bapak kepala desa yang disambut dengan antusias.

Akhirnya mereka diskusi lewat telepon sementara saya punya waktu untuk keliling pulau melihat-lihat keindahan pantai pasir putihnya.

Voila! Bahkan ketika kita tidak punya air, kita bisa jadi keran untuk orang lain.

Sebuah pertanyaan melintas: mungkinkah kita, traveller, meninggalkan hal positif tidak hanya pada diri sendiri tapi juga mereka – saudara kita – yang kita kunjungi? Kalau ada yang bilang leave nothing but footprint, apakah sekarang saatnya untuk dipikirkan kembali?

Travelling (should) make a difference, to the people we meet, the place we visit and to ourselves.

Dan cerita tentang interaksi selama perjalanan inilah yang akhirnya paling sering dan nyaman saya ceritakan, dengan bumbu keindahan alam tentunya.

/* Soe, TTS, 19 Mei 2010 */

bagus artikelnya

klo saya sejauh ini masih mikir harus bkn ‘suatu masukan’ buat diri saya, minimal bikin saya mikir lebih jauh tentang hidup *halah bahasanya* …tahap kedua untuk masyarakat yg saya temui….sejauh ini paling baru masukan2 kecil aja sih,,,belum berani mikir bs bkn dampak ke tempatnya sendiri ^o^… yang paling sering sih adalah saya berusaha ‘nyetanin’ orang untuk mulai jalan2,,,hehehhe,,,berharap apa yg saya dptin dan sharing bs mrka lakukan juga

Setuju sekali mas… Trims udah berbagi, bikin saya jadi ingin berbuat lebih dari sekedar taking picture & leave footprints… ^_^

halo rekan-rekan,

trims atas komentar positifnya.

@definda, ayo, sebaiknya direncanakan… atau kalopun mau dadakan harus siap waktu agak lowong…

@mbak etin, saya juga masih mencoba-coba kok. yang penting, start small, real tapi impact jelas, trus jangan lupa di-share mbak. biar makin banyak teman teman yang terinspirasi

@aklam panyun, yup itu dia namanya, cuma emang saya ndak mencantumkan karena takutnya terdengar serius sekal. thanks.

@icha, mari sama2 menginsprasi, ceritain dong.pengalamannya…

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.