Life is Simple, If You Want To

Ulang tahun di atas kapal nelayan Pulau Ndao
Thoughts
9

Matahari sudah agak tinggi, menantang dari balik rerimbunan pohon kelapa. Saya masih bermalasan, ngumpet di dalam hammock yang dipinjamkan mama Martina, pemilik Tirosa homestay.

Hari ini saya genap 33 tahun. Jujur, tak ada yang spesial dengan hari ini selain beberapa sms yang datang ke nomor pribadi; beberapa belum saya balas. Nomor yang biasa saya pakai tidak berfungsi di sini, dan saya sedikit lega karenanya.

Di depan saya, seekor burung gereja hinggap di atas kabel listrik. Mulutnya penuh dengan seekor belalang. Jaraknya dengan saya kurang dari dua meter, tapi ia tampak tidak takut. Sesaat kemudian ia melesat menghilang di balik genteng. Saya langsung lupa.

Selang lima menit, burung yang sama kembali hinggap di kabel, mulutnya tetap penuh, kali ini nampaknya dengan seekor laba-laba kecil. Tak lama, ia kembali melesat, ke balik genteng.

Saya penasaran. Berjingkat, saya menyusur dinding di bawah genteng. Di atas sana, burung kecil itu sedang nangkring di tepi sarangnya. Ia sedang menyuapi salah satu dari empat ekor anaknya dengan laba-laba hasil buruannya. Salah satu anaknya sedang berusaha melahap belalang yang sebelumnya ia bawa.

Ia kembali terbang. Saya menunggu di bawah sarang. Beberapa menit kemudian, ia membawa belalang yang lebih kecil untuk disuapi ke anaknya yang lain.

Saya terkesima dengan pemandangan di depan mata. Saya teringat dengan cerita guru ngaji ketika masih sekolah dasar, Tuhan saja tidak pernah ingkar janji pada burung kecil yang tiap pagi terbang mencari makan, padahal ia tidak tahu apa dan dimana makanannya hari itu.

Sehari sebelumnya, saya sempatkan berjalan di pantai Nemberala, Rote, melihat kesibukan nelayan yang pagi itu tampak tak seberapa. “Semua ikan sudah terjual,” kata seorang papela (pengumpul ikan).

Di depan saya berderet sekitar enam kapal nelayan terjangkar ke pantai. Satu dua orang awaknya terlihat merapikan jaring, mengisi air tawar dan pekerjaan santai lainnya.

Kapal di ujung kanan nampak lebih sibuk. Empat orang sedang menurunkan sampan. Saya hampiri dan tanya hendak apa.

“Menombak ikan. Mau ikut?” jawab salah seorang berbadan paling legam dan tegap dengan bahasa Indonesia beraksen tidak familiar. Walau baru sehari di Rote, saya sudah agak familiar dengan dialek Rote yang tegas tapi berirama seperti orang Larantuka atau
Madura. Orang di depan saya mungkin dari seberang.

“Boleh?” saya menegaskan, disambut anggukan mantap dari keempat orang itu. “Saya ambil baju ganti dan kamera dulu si penginapan,” saya berlari kegirangan.

Sekembali di pantai mereka telah menunggu saya, namun cuma tiga yang ada di dalam sampan. Saya baru tahu kemudian kalau sampan itu kapasitasnyaa empat orang.

Saya berkenalan. Pace, Lot dan Daniel, pemuda dari pulau Ndao, pulau kecil sebelah barat Rote. Mereka bersama dengan delapan orang lainnya, juga dari Ndao, mencari ikan di sekitar Rote dan dijual ke para papela di pantai Nemberala esok paginya.

“Cari ikan apa?” tanya saya, ketika sampan masih juga melaju kurang lebih satu kilometer dari pantai. Saya mulai gentar saat sampan harus menerjang ombak yang menghantar air hingga masuk ke dalam sampan.

“Ikan apa saja. Untuk makan siang. Mau turun (ke laut) pakai tombak?” Pace yang paling ramah menawari.

“Boleh ajari cara pakai senapan tombak?” saya kembali kegirangan. Padahal tadinya saya cuma niat mengamati saja. Pace mengangguk, diikuti derai tawa Lot dan Daniel.

Lot dan Daniel terlebih dulu turun. Dalam waktu singkat mereka berhasil dapat lima ekor. Giliran saya.

Sungguh tak mudah menggunakan senapan tombak primitif itu untuk mencari ikan. Menghalau ombak agar mulut tak kemasukan air, mengapung di tengah ombak sekaligus memasang mata ke dasar mencari ikan saja sudah sulit.

Senapan itu sangat sederhana, tak lebih dari besi tipis yang satu ujungnya tajam satu lagi ujungnya diikat ke sebatang kayu dengan tali yang dibuat dari karet ban mobil. Sebuah tali karet lain diregang untuk menolak besi ketika dilepaskan. Sebuah rel memastikan besi melesat lurus. Sungguh jauh sederhana dibanding spear gun yang biasa digunakan teman-teman saya ketika menyelam.

Berkali-kali besi yang saya lepas meleset mengenai batu atau pasir. Bahkan sekali nyaris mengenai dasar sampan ketika saya nekat mengejar seekor surgeon fish yang lari ketakutan. Sampai akhirnya, ketika seekor trigger fish yang keasyikan memecah koral harus mati dengan sukses tertembus batang besi tipis, tepat di perutnya.

Saya berteriak kegirangan, lupa kalau saya masih di dalam air hingga akhirnya harus minum bergelas gelas air asin. Lot dan Daniel tersenyum senyum di atas sana.

Kami pulang dengan penuh percaya diri. Enam ekor ikan cukup besar sudah di tangan, lebih dari cukup untuk dua belas orang, termasuk saya yang diundang untuk ikut makan. Kami pun dengan senang memberikan seekor ke seorang bapak dan anaknya yang kurang beruntung.

Di kapal, sudah menanti empat orang. Mereka nampak berbinar melihat kami menenteng lima ekor ikan. Saya diperkenalkan Pace ke empat orang temannya.

Semua orang seketika sibuk menyiapkan makan siang: memasak nasi, menjerang air, mencuci piring, sendok dan gelas, serta menggelar tikar di kabin kapal yang cuma setinggi satu meter itu. Pace, Lot dan Daniel melinting tembakau dan mengepulkan asapnya yang luar biasa tajam baunya.

“Kita santai dulu, nanti makan” kata Daniel, akhirnya buka mulut, sambil menyorongkan tembakau hasil lintingannya yang dengan sopan saya tolak.

Kami ngobrol ngalor ngidul, mulai dari angin timur yang sudah besar sebelum puncaknya di bulan Juni, hingga bencana kelaparan yang pernah melanda pulau Ndao beberapa tahun lalu.

“Memang ikan hasil tangkapan kurang, jadi harus cari ikan untuk makan?” tanya saya ketika kami ngobrol tentang rata rata hasil tangkapan.

“Cukup cukup saja, tapi minggu ini hanya cukup untuk tutup (biaya membeli) solar. Uang sudah habis, jadi kami cari ikan untuk makan. Kalau beras masih ada, tapi agak bau, raskin,” kata Daniel dengan suaranya yang dalam dan tenang.

Saya tertegun. Tak menyangka mendengar cerita yang paling banter saya baca di koran atau internet, kini saya dengar langsung.

Daniel melanjutkan, hasil tangkapan seminggu ini hanya cukup menutup biaya kapal. Mereka tidak menghitung keuntungan, apalagi uang untuk dibawa pulang ke runah. “Biasa kami hari Sabtu pulang ke Ndao, tapi karena kemarin angin besar, kami tidak pulang. Lagipula kami tidak punya uang untuk diberikan ke keluarga,” lanjut Daniel. Pace dan Lot mengangguk angguk.

Saya diam, sembari mengamati mimik muka mereka. Tak ada wajah sedih atau menyesal di sana. Tak juga gembira.

“Namanya ke laut, mas, kadang dapat banyak kadang dapat sedikit. Yang penting perut terisi,” kata Pace. “Nanti malam kami ke laut, pasang pukat, mau ikut?”

Saya langsung mengangguk, penuh suka cita. Namun yang membuat saya lebih suka cita adalah karena ketiga orang di depan saya, dan empat orang lainnya yang kemudian makan siang bersama, tak menunjukkan kegundahan, kerisauan dan kekhawatiran akan hasil tangkapan malam ini walau mereka tahu cuaca sedang tidak terlalu bersahabat dan tangkapan mereka seminggu ini kurang sukses.

Saya langsung teringat burung kecil yang kini hinggap kembali di kabel listrik. Kali ini mulutnya sedang sibuk menelan seekor serangga kecil. Pastinya keempat anaknya telah mendapat makan. Sorot mata burung kecil itu tak lepas dari saya, seolah ingin mengatakan “saya sudah dapat apa yang saya butuhkan hari ini.”

Sama dengan burung kecil itu, buat Pace, Lot dan Daniel serta teman teman mereka, hidup itu sederhana, tidak perlu strategi dan hitung-hitungan yang terlalu njelimet. Mereka percaya, hidup tak selamanya susah dan tak selalu senang. Jadi tak perlu disesali atau dipenuhi rencana terlalu muluk, seperti kata Daniel ketika memimpin doa sebelum makan, “terimakasih Tuhan telah memenuhi janji-Mu dan memberi rejeki untuk makan siang kami hari ini.”

Siang ini, saya bersyukur karena diingatkan oleh seekor burung gereja dan orang-orang sesederhana Pace, Lot dan Daniel serta teman-temannya.

Sungguh, ini adalah salah satu hadiah ulang tahun terbaik yang pernah saya dapatkan.

Teman-teman nelayan Pulau Ndao, Rote-Ndao, NTT
Merayakan ulang tahun di atas kapal bersama teman-teman nelayan Pulau Ndao, Rote-Ndao, NTT


hmm…tulisan yg bagus Ndro…
Keep writing !!
and once again…..Happy B’day Endro….
Elo beruntung mengalami ulang tahun dgn cara yg tidak biasa seperti pengalaman elo dgn para nelayan Ndao ini….bener2 bikin iri gw ;p
Ditunggu catper elo berikutnya….
Take care….

PS : Jgn lupa telpon nyokap elo…qeqeqe

aku prnah baca “jadikan syukur penjaga nikmat dan rezekimu”..
btw numpang comment..:D
td dr maillist indobackpacker mo liat foto2 NTTnya..jd skalian aja baca2 blognya..lumanyan nambah isi kepala…
salam kenal..blognya aku link k blogku ya, boleh?

halo. trims komplimennya. ya, saya prnh baca juga, itu dmn ya??
oya, maaf ya fotonya blm semua, msh jln2 mode. ntar kalo udh balik sy upload semua deh…

and trims udah di-link. salam kenal…

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
Being senseless

Thank you old blind man. You may be less perfect than me, but you have shown me how not attaching to one of your senses are actually possible to continue life.

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Thoughts
Walking, meditate on the move

With all the body senses required, walking is an active, focused and concentrated action. Waking is, to me, meditative.