You can’t (don’t) beat nature; You live with it

uDalam perjalanan di Flores, saya merasakan betapa berkuasanya saya dengan yang namanya rute dan jadwal perjalanan. Transportasi tetap saja terbatas, tapi hampir tidak pernah ada penundaan dan pembatalan. Mungkin karena transportasi lebih banyak di darat.

Setengah berkelakar, saya sempat berpikir mungkin juga karena awal-awal perjalanan adalah saatnya menjadi turis: melihat, mengeksplorasi dan terkagum-kagum. Bulan pertama mungkin memang belum saatnya menjadi pengelana.

Masuk di akhir bulan, tepatnya tanggal 24 April, saya mulai menghadapi yang namanya pembatalan penerbangan dan ferry. Intensitas semakin tinggi justru ketika saya semakin ingin mengendalikan jadwal perjalanan, sama seperti ketika di Flores saya dengan asyiknya memutuskan, “Ah, nanti saja, toh bus-nya tersedia sampai malam.”

You can’t beat nature. Begitu mungkin bapak dan ibu yang sudah malang melintang di dunia jasa transportasi punya filosofi, apalagi di bagian paling menantang dari Infonesia ini. Konyolnya, saya sempat menantang mereka dengan adrenalin yang tak seberapa.

“Jika perlu, saya tunggu di dermaga empat jam, asal ada kepastian nanti sore ferry ke Pulau Sabu jalan,” pernah saking kesalnya saya bersumpah di depan syahbandar ASDP Waingapu. Tolol memang, saya tahu.

“Ini bukan Jawa,” begitu kata petugas Merpati mengingatkan saya, ketika saya mendapatkan berita pesawat ke Kupang dibatalkan.

Saya terhenyak. Saya ternyata masih jadi turis yang menuntut minimal sama dengan apa yang saya bayarkan. Saya masih membawa kenyamanan dan reliability transportasi pulau Jawa ke tempat yang tidak lebih beruntung dalam pembagian kue pembangunan ini.

Saya belum bisa menerima kenyataan bahwa sayalah yang menciptakan unreliability karena belum bisa menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan masyarakat setempat lengkap dengan segala keterbatasannya.

Pedagang di pasar yang kadang malah merugi karena ongkos ke pasar lebih mahal dibanding untung yang ia dapat. Petani yang cuma bisa mengelus dada karena hujan tak kunjung turun. Atau tukang ojek yang harus menunggu berjam-jam sebelum dapat penumpang.

Karena bagian dari sebuah perjalanan adalah menghidupi kehidupan sehari-hari penduduk setempat, termasuk keunikan dan kesusahannya.

Karena tak ada yang salah dan benar dari tujuan sebuah perjalanan, mari kita pikirkan kembali dengan penuh tanggungjawab, apakah kita ingin menjadi turis ATAU pengelana?

/* Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu, 12:30, akhirnya dapat tiket Merpati, dengan penyesuaian rute perjalanan tentunya, setelah menunggu lima hari jadwal pesawat dan ferry yang tertunda karena cuaca */

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Thoughts
Traveling the Unknown

Very few – if any – people like to travel without itinerary, in uncertainty.

Journey
Journey to the Lesser Known: The Silk Route #1 – China

Journey to anew is always exciting as much as frightening. But, as you remember the Emperor’s last message to you, “Everyone can wander, but very few travels with a purpose.”