[Tetralogi Timor] 02 – Suvenir Terbaik Sebuah Perjalanan

“Adik boleh panggil saya Bapak,” dan air mata saya pun meleleh membaca isi pesan singkat itu. Tak pernah terbayang, seorang dengan status sosial sebegitu tinggi rela “menurunkan” derajatnya di depan rakyat kebanyakan seperti saya.

Rambut putih rata menghias wajah dan kepala laki-laki di depan saya. Gigi-geliginya beberapa tanggal, yang tersisa kemerahan karena sirih. Otot pipinya kering, terbungkus kulit legam, kontras dengan rambutnya. Ia terlihat aus. Tapi, tak sedikitpun kelelahan tersirat di wajahnya. Dengan senyum khas itu, Bapak Robert Koroh, ketua komunitas penenun ikat Amarasi, di kecamatan Baun, Timor Timur Selatan, terlihat lebih muda dari usianya.

Dan senyum khas itu pula-lah yang menjadi saksi bisu atas apa yang telah dilakukan Bapak Robby – begitu ia mempersilahkan saya memanggilnya – dalam membina penenun ikat yang tidak lain adalah warga-nya sendiri.

Ya, sejak tahun 1996 Bapak Robby menggantikan ayah-nya menjadi Raja di Kerajaan Amarasi, sebuah kerajaan kecil di bagian barat daya pulau Timor.

Walau status raja masih disandangnya, hubungannya dengan para penenun lebih seperti seorang bapak kepada anaknya. Ia tidak sekedar mengingatkan, tapi juga memberi contoh, agar warga teguh memegang tradisi yang baik.

Bersama Bapak Robby, Ibu dan cucu di depan rumah mereka
Bersama Bapak Robby, Ibu dan cucu di depan rumah mereka
Dalam sebuah pertemuan teramat singkat, Bapak Robby menyadarkan saya dengan senyum khasnya bahwa kiamat sudah dekat, setidaknya untuk budaya menenun ikat di beberapa tempat seperti di Amarasi.

Walau begitu, senyumnya menolak sedikitpun keputusasaan. Pria ini malah asyik mendengar celoteh saya tentang kondisi tenun Lombok yang tak jauh beda kondisinya. Ia senang mencari solusi untuk permasalahan warganya.

“Setiap orang dewasa di sini masih punya kain, bukan cuma karena (untuk) upacara adat, tapi juga (karena) mereka tidak ingin meninggalkan tradisi. Hanya saja, anak-anak muda sekarang malas belajar menenun,” ujarnya lirih.

Padahal, banyak desainer, organisasi non pemerintah, lembaga swadaya masyarakat bahkan turis datang untuk melihat, mengamati, membeli, membantu bahkan memberikan hibah pada warga Amarasi untuk kegiatan menenun mereka. Sayangnya, semua itu kurang membantu memperbaiki regenerasi penenun yang mandek.

Kabar baiknya adalah seluruh warga Amarasi berkeras menjaga budaya mereka sendiri. Walau banyak diminta, mereka tidak merubah motif tenun ikat tradisional mereka dengan alasan ingin menjaga makna, cerita dan ajaran di balik motif-motif ini. “Banyak yang hanya ingin membeli tapi tidak ingin tahu ceritanya,” ujar Bapak Robby.

Saya langsung mengingat-ingat ulang koleksi ikat saya di rumah, dan langsung merasa bersalah.

“Kami mau turis pulang tidak cuma bawa ikat dan bantu (ekonomi) warga, tapi juga pulang bawa cerita-cerita dari (budaya) kami,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Saya tercekat. Sebegitu banyak perjalanan yang saya lalui dan sebegitu banyak pula oleh-oleh saya bawa pulang. Tapi, berapa banyak cerita-cerita luhur dari penduduk setempat yang saya ingat dan bawa pulang?

Saya tidak ingat, seberapa jauh interaksi saya dengan penduduk setempat selama perjalanan menjadi inspirasi untuk perubahan yang baik di kehidupan saya selanjutnya?

Thanks Jay.

Semua ini kayaknya berkat jalan-jalan ke Sindang Barang. Apalagi waktu pagi-pagi, sembari nunggu sarapan, ngabur. Akhirnya bisa juga ngobrol sama penduduk desa.

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Life
Redefining Heritage, Rethinking Legacy

“What would people think and say about you at your funeral? What would be your legacy?”

Society
Do You – Really – Live Your Life as A Local?

When we embrace this kind of ‘local’, it doesn’t matter what accent people speak, as long as they communicate seamlessly. It doesn’t matter who eats what for lunch, as long as they can share their dining table. It doesn’t matter who enters or leaves, as long as the community maintains, shapes and keeps redefining their locals.

Society
Fishes Know No Politics or Religions

Somehow, I didn’t care about the menu mistakes, the #meh coffee and all the tiring talks about religions and politics in this trip, but that LOL with a stranger perfectly ended my trip to Kei Islands.