[Tetralogi Timor] 01 – Turis Juga Manusia

Culture and heritage,” begitu isi pesan singkat saya ketika dengan sopan harus sopan menolak ajakan seorang teman berwisata ke sebuah pulau eksotis dekat Jakarta.

Ya, sebagai seorang pengelana independen, saya bebas merencanakan yang ingin didapat dari setiap perjalanan saya. Walau tidak pernah bosan dengan birunya air laut atau sejuknya udara pegunungan, kali ini saya ingin sesuatu yang lain: menjadi siswa sebuah sekolah bernama wisata budaya dan sejarah.

Disengaja atau tidak, beberapa perjalanan saya terakhir lebih memberi kesempatan saya nyambung dengan pasir putih di pantai, ikan-ikan dan siput laut serta jalur trekking yang berbahaya dan tentunya teman-teman yang sebenarnya bisa saya temui kapan saja di Jakarta.

Tidak ada yang salah; tapi terasa ada yang kurang lengkap: berinteraksi dengan penduduk setempat dan bersentuhan dengan budaya mereka!

Desa Oensana, Amanuban Barat, Timor Timur Selatan
Desa Oensana, Amanuban Barat, Timor Timur Selatan
Untunglah perjalanan kali ini “memaksa” saya berinteraksi dengan penduduk, memahami budaya yang unik dan khas, serta menghargai kenyataan bahwa budaya, adat dan tradisi mereka memang berbeda.

Perbedaan itu pula yang membuat saya tersentuh dengan kebersahajaan seorang raja, terpingkal-pingkal tertawa dengan seorang penenun tua hingga menitikkan air mata dan kagum dengan usaha yang tak kenal lelah dari seorang perempuan hingga mata berkaca-kaca.

Sedih. Senang. Trenyuh. Tergugah. Semua teramu dalam perjalanan ke Pulau Timor, provinsi Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang menyadarkan kembali seorang pengelana: bahwa ia juga manusia biasa.

What makes this trip different?

  • Saya bepergian dalam kelompok kecil – lima orang – dengan menyewa kendaraan berukuran pas dengan kapasitas penumpang.
  • Saya mendengarkan cerita penduduk setempat dan sebisa mungkin mengajukan alternatif solusi masalah mereka.
  • Saya minta ijin untuk mengambil foto penduduk setempat dan mengirimkan foto mereka yang telah dicetak.
  • Saya mempelajari satu dua kata bahasa setempat dan tidak ragu menggunakannya.
  • Saya mendengar dan mengerti tradisi setempat bahkan yang tidak sesuai prinsip saya dan mendiskusikan tanpa memperdebatkannya.
  • Kami mendiskusikan apa yang diinginkan turis ketika mengunjungi tempat ini dan bagaimana penduduk setempat mendapat keuntungan materi dengan tetap menjaga tradisi.

Semoga perjalanan selanjutnya memberikan lebih banyak lagi ‘pelajaran’. Happy Travelling! *btw, foto di sebelah kanan sudah dihilangkan ya, Ndro? *relieved…:)it was a bit distracting, to be honest, and now you can give more exposure to the ladies dancing on the header ^_^

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Journey
Wrapping up #Chinese Silk Route

Glad to be back to Xi’an! Rather than going to Xi’an typical touristic spots (the Terra cotta Warriors, the City Wall, the Muslim Street and so on; I went there but you can ask google for more), I chose to end the first leg of my #SilkRoute trip at Shaanxi Provincial History …

Journey
798 Art Zone of Beijing

After a full day check up at the hospital, I headed out to see what Beijing had to offer. Instead of going to usual touristic spots, I headed to 798 Art Zone at Dashanzi. Previously a complex of factories, urbanization pushed these factories in 2004 out of town, giving spaces …

Journey
Winter wonderland at Urumqi

Winter wonder(slippery)land. Urumqi City from above. Cold.