As Time Goes By; As Feet Walk By; As Boat Passes By

Jembatan Satu Kilometer
Jembatan Satu Kilometer

Sungguh beda pelesiran singkat ke Pulau Tidung ini dibandingkan dengan perjalanan lainnya. Nggak ngotot. Nggak banyak syarat. Nggak banyak persiapan. Nggak banyak keinginan: cuma berburu foto dan tidur di antara ikan.
***

Tiba di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke yang juga pelabuhan tradisional ke Kepulauan Seribu, saya berhimpitan di antara ratusan calon penumpang yang bergerombol di bibir dinding pelabuhan.

Jam belum lagi menunjukkan pukul enam, tapi riuh rendah suara dari seluruh penjuru pelabuhan memecah pagi. Nampaknya warga Jakarta nggak rela melewatkan sisa libur panjang Idul Fitri yang masih dua hari lagi.

Di antara calon turis-turis lokal itu, sahabat saya, Dee, melambai dari jauh. Kami segera beringsut menuju kapal kayu yang belum merapat sempurna namun bergoyang liar diserbu calon penumpangnya.

Di ujung belakang kapal, di antara samar-samar bau toilet dan raungan mesin kapal, Dee dan saya berselonjor melepas lelah. Sesekali kami menangkap beberapa pasang mata yang iri. “Maaf, Pak. Ngantuk!”

Dua jam dan kami tiba di sebuah dermaga beton di antara kapal-kapal kayu lebih besar. Di depan kami, sebuah spanduk plastik menyambut kami, “Selamat Datang di Kecamatan Pulau Seribu Selatan”. Selamat datang di Pulau Tidung.

***

Berjalan-jalan di salah satu pulau terbesar di Kepulauan Seribu ini sungguh menyenangkan. Angin laut tak berhenti menyapu kulit; tak terlalu keras karena pohon-pohon besar masih tegak berdiri menyisir pantai menahan angin.

Jalan setapak berlapis conblock dan tak lebih dari 2 meter lebarnya nyaman disusuri; sambil sesekali berhenti menyapa warga pulau yang tak pernah lepas dengan senyum mereka.

Sesekali wangi ikan dibakar atau digoreng menyeruak dari dinding-dinding rumah. Dan ketika perut tak lagi bisa diajak musyawarah, kami diseretnya menuju Rumah Makan Gelora, tak jauh dari dermaga.

Menunya sederhana saja: nasi putih, ikan baronang goreng dan sambal kemiri yang pedas luar biasa. Bapak pemilik rumah makan sukses menjual sepuluh ekor ikan gorengnya kepada kami, satu-satunya pelanggan.

“Maaf Pak, kami lapar banget,” kami berkilah sambil menjilati sisa-sisa sambal di jari.

***

Bu Aisyah konon terkenal di pulau ini. “Tinggalnya dekat warung bakso,” begitu petunjuk yang kami dapat. Jangankan menemukan rumah Bu Aisyah, menemukan warung bakso pun sudah sulit, karena warung di pulau ini ternyata punya jadwal buka yang ajaib.

Lelah bolak-balik dari satu warung ke warung lain, kami malah tiba di depan rumah Bu Aisyah. Konyolnya, rumah Bu Aisyah persis di depan dermaga dan warung bakso yang dimaksud ternyata hari itu sedang jadi warung pecel ayam karena bakso dari Jakarta belum datang.

Bu Aisyah dengan hangat menyambut kami, tamu yang hanya bermodal kenal dengan sepupu-nya di Pulau Pramuka. Sembari silaturahmi Lebaran, kami menyempatkan mendengar cerita Bu Aisyah yang mantan atlet desa dan calon perawat.

***

Berbekal informasi dari beberapa cerita perjalanan di internet (sambil ngiler membayangkannya), kami menyewa becak dengan satu pesan khusus: “jalannya pelan-pelan, Bang, biar bisa foto-foto”.

Perahu
Perahu
Menyusur pantai ujung timur pulau, jalan makin menyempit, rumah makin jarang, pasir putih mulai nampak dan angin makin sejuk berhembus dari balik pohon-pohon kelapa mengantar kami menuju tujuan pertama: jembatan satu kilometer!

***

Air di bawah sana sungguh mengundang. Namun pemandangan di atasnya sayang jika terlewat diabadikan.

Narsis di Tidung
Narsis di Tidung
Kami terlalu sibuk menghabiskan kartu memori kamera, menjepret tombol shutter kamera dan mengabadikan obyek paling penting: kami sendiri!

Jembatan rusak
Jembatan rusak
Dermaga rusak dan jembatan beton yang belum jadi pun terlihat jauh lebih menarik ketika kami berfoto di depannya. Lokasi favorit kami adalah: jembatan kayu kelapa yang membentang sampai ke Pulau Tidung Kecil.

Wajar saja kalau niat mengukur panjang jembatan tidak sempat terwujud.

***

Tujuan kedua kami adalah: tidur bersama ikan! Setelah sebelumnya ngubek-ngubek seisi pulau mencari Pak Sanuari yang sedang sibuk main tenis meja, kami berhasil merayu istrinya untuk mengijinkan kami tidur bersama ikan kerapu.

Bukan di air tentunya, tapi di rumah kayu di atas keramba!

Tanpa lampu, di dalam rumah berdinding bambu sungguh gelap tak bersahabat dengan mata rabun saya. Tapi di teras, cahaya bulan tigaperempat menembus sampai ke dasar keramba. Ditemani angin yang makin kencang berhembus, kami menghabiskan malam di rumah keramba. Tanpa cahaya buatan. Tanpa suara-suara manusia. Hanya kami, air dan angin laut dan cahaya bulan.

***

“Kayaknya kita bakal telat ngejar kapal ke Jakarta nih.”

Kami berdua memandang ke selatan pulau Tidung Besar, ke arah pelabuhan, walau sesaat kemudian kembali asyik mengarahkan kamera ke matahari yang sedang mengintip di balik Pulau Tidung Kecil.

Dan memang kami tertinggal kapal. Tapi tak ada gurat kekecawaan di muka kami. “Oh well, we can spend another day here.”

Sesi foto di pelabuhan pun bergulir, di tengah puluhan pasang mata yang terkagum-kagum (atau terheran-heran?) dengan kegigihan kami mengabadikan foto diri di bawah matahari terik.

***

“Oh ternyata Bu Soleha sepupunya Bu Aisyah?”

Saya jadi teringat tetangga saya di Cengkareng yang sebagian besar orang Betawi. Mereka tinggal berdekatan satu sama lain. Begitu pula dengan sebagian besar warga di pulau-pulau besar di sini. “Kalo bisa mah, saya dapat mantu orang pulau aja, biar deket,” timpal Ibu Aisyah.

Bermodal senyum dan ngobrol sana-sini, kami nebeng kapal Pak Soleh – suaminya Bu Soleha, sounds familiar? – ke Pulau Pramuka. Tujuannya untuk mengejar kapal ojek jam 1. Sialnya, kami tiba persis ketika kapal terakhir melaju cepat beberapa ratus meter di depan kami. Dan kapal itu tidak berhenti bahkan ketika kami teriak-teriak sampai tenggorokan panas.

“Oh well, we can spend another night here.”

***

Dari depan dermaga Pulau Panggang, pasir putih di Pulau Karya sungguh mengundang. Tanpa berpikir panjang – dan nampaknya kami memang tidak pernah berpikir cukup panjang selama perjalanan ini sehingga ketinggalan kapal dua kali – kami langsung meraih alat snorkel dan menyeberang menuju Pulau Karya.

Tak pernah saya menyangka, pulau yang sebegitu dekat dengan pulau lain yang rapat dengan penduduk – dan jorok – bisa punya pantai sebegitu putih, bersih dan air yang  jernih.

Berbaring mengambang di atas air seharian rasanya sah-sah saja. Apalagi kalau tidak harus memikirkan bagaimana bisa tiba di Jakarta besok harinya.

***

Malam di Pulau Panggang sungguh menyenangkan: tenang, sepi dengan angin yang lamat-lamat mengalir menembus padatnya dinding rumah. Seperti tersihir, penduduk pulau nampaknya lebih suka menghabiskan malam di dalam rumah di depan tivi.

Padahal, di ujung sana, pantai putih Pulau Panggang nampak menggoda untuk dijelajahi. Memanggang ikan, bakar jagung dan tidur di balik tenda nampaknya ide yang tepat. Sayangnya, mata sudah tidak bisa diajak kerjasama. Apalagi besok kami mesti bangun jam 3 pagi untuk mengejar kapal spesial.

***

Jam empat pagi, satu per satu calon penumpang mendekati kapal yang tak bergeming mengapung di atas air yang rata bagai kaca.

Satu jam berlalu. Kami sudah gelisah berbaring di antara plastik-plastik besar berisi ikan kerapu yang siap dibawa ke Tangerang.

Tangerang? Ya, kami mencoba rute baru yang selama ini absen dari pengetahuan kami. Ternyata ada kapal yang berangkat dari Pulau Panggang di pagi buta ke pelabuhan rakyat Rawa Saban, Kabupaten Tangerang.

Perjalanan tak lebih dari dua setengah jam, melewati Pulau Lancang yang sungguh menggiurkan untuk dijelajahi hingga akhirnya tiba di pelabuhan Rawa Saban.

Selamat datang Jakarta – oops, Tangerang.

Selalu ketawa sendiri setiap kali (untuk ke sekian kalinya niy) baca catper this “Lucky” trip modal nekat!…hehehehehe….
One of my “Unbelieveable trip”…. Gracias!

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.