Jalan-jalan – Gak Penting tapi – Menyenangkan di Sindang Barang

“Masih lama nggak?”
“Baru juga masuk”
“Apanya?”
“Gue!”

Obrolan ceplas-ceplos dua orang teman – yang satu ketinggalan celana dalamnya di dalam kamar mandi, satunya lagi keburu jebar-jebur dan basah – yang gak sengaja terdengar ketika saya mandi itu bisa dipastikan akan selalu mengingatkan akan perjalanan senang-senang bersama Jalan Bebas ke Sindang Barang, akhir Mei 2009 lalu.

Walau jumlahnya banyak, toilet di Kampung Budaya Sindang Barang yang airnya sempat ngadat bikin antrian panjang. Tapi justru karena antrian itulah obrolan nggak penting seperti di atas meluncur; obrolan yang justru bikin kami – hampir limapuluh orang – kenal bahkan akrab, dalam waktu kurang dari dua hari.

Sekaligus merayakan ulangtahun ke-3 Jalan Bebas – kelompok jalan-jalan yang uniknya memadukan avonturir alam, budaya plus senang-senang – kami berjanji bertemu di stasiun Gambir, berkenalan dan mulai perjalanan menumpang kereta Pakuan Bogor dan dilanjutkan menyewa angkot menuju Kampung Budaya Sindang Barang.

Walau ketika pulang pun saya belum ingat keseluruhan peserta, saya tak akan lupa anggota kelompok Paradise yang benar-benar nyantai, kompak tapi menang terus – biarpun beberapa kali dicurangi kelompok lain yang udah usaha mati-matian tapi nggak menang-menang juga 🙂

Peres, nggak usah Lebay deh, ntar malah nggak kedengeran kayak Untitle lho. Welcome to my Paradise…

Mulai dari ngobok-ngobok empang jorok yang katanya ikannya banyak (emang banyak, tapi susah ngeliatnya kalo gak pake google sama snorkel kan???), campur-campur bau ketek di tali tambang, adegan-adegan mesum dengan alasan mindahin bola pake perut sampe lompat-lompat ke segala penjuru mata angin yang nggak bikin IQ nambah karena kayaknya lebih mirip brainwash di bawah matahari yang panasnya minta ampun, semua permainan itu – walau kedengerannya nggak penting banget – tapi jadinya menyenangkan aja.

Seperti moto grup Paradise: santaiiii….

endro lu terkesan samaa permain pindahin bola ya, dimana si jaya tertawa bahagiaaaaaa banget, kepalanya ada diatas paha engkau, yg lagi pagi celana orange kan?

jaya pasti seneng..ini caper tentang jaya..yah yun…oohhbegitu indahnya…jaya ternyata cintamu dah ada di sindang barang…hmmm..xexexe

gue baru baca lengkapnya…jd terkenang jg yah…jln2 *mnrt endro*..yg mnrt gue jg bukan jln2..tp kumpul2…heheee…lebih menyenangkan drpd jln2….

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.