Desa Budaya Sindang Barang: Setengah Penuh atau Setengah Kosong?

Gembira

Beberapa kali saya dikecewakan dengan desa adat, desa budaya dan tempat-tempat yang dikonstruksi – atau direkonstruksi – dengan tujuan “menjual” tradisi.

Penduduk yang menenun padahal mereka tidak lagi menggunakan kain tenunannya sebagai pakaian karena lebih laku dijual sebagai suvenir. Makanan yang dimasak hanya ketika ada turis datang padahal sehari-hari penduduk lokal lebih akrab dengan bakso dan ayam goreng. Yang paling parah, anak-anak yang minta “dibayar” setelah merelakan wajah lokal mereka ditangkap kamera turis.

Apakah Desa Budaya Sindang Barang termasuk salah satunya?

Dengan pengetahuan yang sangat minim tentang tempat ini dan berbekal pengalaman tak mengenakkan di atas, saya datang dengan harapan yang tidak telalu muluk-muluk. “Minimal ada pertunjukan atau obyek yang bisa merepresentasikan budaya setempat, rasanya sudah cukup” pikir saya polos.

Pikiran polos saya tak sepenuhnya salah. Beberapa pertunjukan. Obyek yang bercerita. Tradisi yang dijaga. Peraturan adat yang masih berlaku. Mereka menjadi pagar yang menasbihkan label Kampung Budaya layak bersanding di desa Sindang Barang.

Sejauh tetap terpelihara, saya tidak lagi mempermasalahkan apakah tujuan semua hal di atas untuk eksploitasi wisata semata. Tapi, di tengah kepasrahan itu, dengarlah curhat seorang pemain angklung.

“Saya nggak tahu siapa yang akan nerusin saya main (angklung). Nggak ada tamu pun saya sudah main (angklung). Anak-anak sekarang, kalau nggak ada duitnya, mana mau main?” begitu kira-kira terjemahan bebasnya.

Tak usah mempersalahkan anak-anak terkutuk itu (maaf) yang ogah meneruskan tradisi dan budaya orang tua mereka. Saya malah bersyukur karena di luar sana masih ada segelintir (mungkin banyak) orang-orang yang berkeinginan meneruskan tradisi karena dorongan non-material.

Mereka berusaha agar gelas tradisi tetap setengah penuh. Atau berusaha agar tidak setengah kosong?

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Life
Redefining Heritage, Rethinking Legacy

“What would people think and say about you at your funeral? What would be your legacy?”

Society
Do You – Really – Live Your Life as A Local?

When we embrace this kind of ‘local’, it doesn’t matter what accent people speak, as long as they communicate seamlessly. It doesn’t matter who eats what for lunch, as long as they can share their dining table. It doesn’t matter who enters or leaves, as long as the community maintains, shapes and keeps redefining their locals.

Society
Fishes Know No Politics or Religions

Somehow, I didn’t care about the menu mistakes, the #meh coffee and all the tiring talks about religions and politics in this trip, but that LOL with a stranger perfectly ended my trip to Kei Islands.