Kena Racun Diving

My Buddy
My Buddy
Selain nekat, ternyata ada yang bisa melawan ketakutan: teman yang lebih nekat!

Sudah lama sahabat saya, mbak Dewi, geregetan ingin bisa nyemplung ke laut seperti teman-temannya yang sudah menyelam, termasuk saya.

Alah bisa karena biasa nggak berlaku buat mbak kita satu ini. “Lha gimana mau biasa kalau mau mulai saja sudah parno”, begitu kata saya.

Nasihat saya, bergaul sama mereka yang sudah jauh lebih dulu menyelam, kalau perlu discovery langsung di laut. Kalau mulai dengan kursus, bisa jadi teori-teori itu bikin ngeper dan akhirnya malah ogah.

Ketika kami di Bali untuk sebuah pekerjaan dan ada waktu kosong satu hari, saya ajak mbak Dewi ketemu Bli Widana di Padang Bai untuk mencoba discovery.

Sahabat saya yang putra Bali ini sudah sepuluh tahun tinggal di dekat pelabuhan ferry Bali-Lombok dan bersama anak dan istrinya membuka sebuah dive center sederhana tapi sangat profesional dan helpful, termasuk ketika saya bilang kalau saya ingin nguplek di dasar laut dengan kamera sementara mbak Dewi baru kali ini mencoba menyelam.

Sebelum dan selama perjalanan menuju dive pertama, saya dan Bli Widana jadi kompor, sebisa mungkin supaya mbak Dewi nggak ngeper, apalagi ombak lumayan bikin jantung mau copot.

Dive pertama buat mbak Dewi terbilang sukses: langsung ketemu barracuda yang lagi sendirian cari makan.

Dive kedua ketemu dua jenis ghost pipe fish, menyentuh segerombolan cumi-cumi yang sedang bertelur dan … berjumpa seekor reef shark sepanjang lebih dari satu meter yang sedang istirahat di bawah karang meja. Kurang beruntung apa lagi?

Dive ketiga Bli Widana membawa kami di slope curam hampir sembilan puluh derajat di kedalaman 22 meter (mbak Dewi cuma sampai belasan meter). Terumbu karang warna-warni di slope itu menutup tiga dive sempurna yang sangat berkesan untuk kami, terutama mbak Dewi.

Saya sempat ngiri dan membandingkan pengalaman saya discovery di Bunaken dan Lembeh yang sebelumnya menurut saya sudah paling menantang ternyata tidak apa-apanya dibandingkan pengalaman mbak Dewi.

“Kayaknya sudah kena racun diving,” begitu komentar Bli Widana tentang mba Dewi. “Tinggal nunggu dapat sertifikat saja,” timpal saya.

“Mbak-nya sudah pintar diving ya, mas?” tanya boat man kami. Saya mengangguk sambil senyum-senyum memandang mbak Dewi yang sedang naik ke atas jukung.

Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Lion Fish
Hermit crab
Hermit crab
Hermit Crab
Hermit Crab
Nudibranch
Nudibranch
Nudibranch
Nudibranch
Leaf Frog Fish
Leaf Frog Fish
Yellow Boxfish
Yellow Boxfish
Leaf Frog Fish
Leaf Frog Fish
Leaf Frog Fish
Leaf Frog Fish
Cat Fish
Cat Fish
Nudibranch
Nudibranch
Ghost Pipe Fish
Ghost Pipe Fish
Ghost Pipe Fish(es)
Ghost Pipe Fish(es)
Pipe Fish (?)
Pipe Fish (?)
Pipe Fish (?)
Pipe Fish (?)
Reef Shark at Rest
Reef Shark at Rest
Reef Scene
Reef Scene
Busy Day for the Cuttle Fish
Busy Day for the Cuttle Fish
Cuttle Fish
Cuttle Fish
Cuttle Fishes
Cuttle Fishes
Cuttle Fish Laying Eggs
Cuttle Fish Laying Eggs
Cuttle Fish
Cuttle Fish
Porcelain Crab
Porcelain Crab
Porcelain Crab and Glass Fish
Porcelain Crab and Glass Fish
Porcelain Crab
Porcelain Crab
Clown Fish
Clown Fish
Nudibranch?
Nudibranch?
Scary Stone (Scorpion?) Fish
Scary Stone (Scorpion?) Fish
Lone Razor Fish and Sea Fan
Lone Razor Fish and Sea Fan
Nudibranch Feeding
Nudibranch Feeding
Nudibranch Feeding
Nudibranch Feeding
3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.