Galeri Foto: United Colors Malaysia (2)

Malaysia gak melulu tentang Petronas.

Di Kuala Lumpur dan sekitarnya, banyak bangunan yang bisa diperhatikan lebih seksama. Perpaduan Cina, Melayu dan India, beberapa detil menunjukkan keserasian – dan kontradiksi – yang membuka imajinasi.

Walau umumnya lebih teratur dibanding Jakarta, beberapa hal yang sempat melintas di depan mata – pipa air yang nggak nyambung, jemuran di balkon apartemen rumah burung, hingga pakaian yang dipajang sedemikian rupa hingga menutup hampir seluruh bagian dinding di depan toko – sempat mengundang senyum tersungging.

Truly Asia? Masih perlu dibuktikan. Tapi sehari di Kuala Lumpur cukup membuka mata bagaimana ibukota negeri jiran ini berusaha untuk membuktikan slogan penggenjot pariwisata negeri ini.

Buzz
Buzz
Cari angin
Cari angin
ZzzzZZzzzz
ZzzzZZzzzz
Penjual daging
Penjual daging
Penjual sayur
Penjual sayur
Penjual daging
Penjual daging
Penjual daging
Brotherhood
Penjual daging
TV Lantai
Dinding
Dinding
No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.