Trip Suka-Suka ala British Council

Beda banget kalo udah di kantor

Walau sudah empat setengah tahun kerja, foto perjalanan saya bersama teman-teman kantor yang sekarang terbilang sangat sedikit.

Didorong narsisme yang meluap-luap dan kejenuhan luar biasa di kantor, kami berlima “kabur” dan memaksa “melupakan” kesibukan kantor, menuju ke selatan Ciamis.

Pangandaran, Batu Hiu, Green Canyon dan Batu Karas sudah sering saya singgahi. Tapi – seperti seorang teman pernah bilang – kadang kala bepergian nggak melulu tentang tempat tujuan, namun dengan siapa kita pergi.

Berbagi tugas – Fajar dan transportasi, Mbak Ina dan konsumsi, Mia dan Leli dan akomodasi dan saya program-nya – kami meluncur menjelang tengah malam, disertai harapan tiba di Karang Nini sebelum matahari terbit.

Macet di Cipularang sempat bikin cemas apalagi krtika mobil berjalan sangat lambat selepas Cileunyi. Kami mengubur dalam-dalam harapan melihat matahari terbit.

Kami melewati Karang Nini dan langsung ke Batu Hiu, bertemu ombak ganas tak henti menampar karang menjorok berbentuk – katanya – seperti ikan hiu. Untunglah, pantai hitamnya yang lebar berada di cekungan kecil; cocok untuk main-main air.

Setelah foto sana-sini berbagai gaya dan berganti-ganti fotografer, kami bergegas ke Green Canyon.

Sudah empat kali saya ke tempat ini. Tapi, bukan berarti saya bisa jadi guide yang oke buat keempat teman saya yang ternyata belum pernah ke tempat ini. Jadi, slonong boi aja ceritanya.

Alhasil, beberapa rekor pertama kali: mbak Ina nyemplung ke air, Leli lompat dari atas batu lima meter (didahului doa sepuluh menit) dan pertama kali lainnya.

Arus cukup deras, batu tajam dan licin serta air yang dingin tidak bikin kami takut, malah makin menjauh ke dalam untuk – apa lagi kalau bukan – foto-foto.

Seolah nggak ingin balik, kami santai mengambang di air sambil menghabiskan batere kamera saya.

Pak Tatang, supir kami, merekomendasikan bakso Acip di Pangandaran untuk makan siang. Lapar luar biasa, segera setelah check in di Sun-In Hotel, bersih-bersih, kami menuju warung bakso yang ternyata di belakang Hotel Laut Biru.

Agenda berikutnya adalah mblusuk-mblusuk ke taman Cagar Alam, sebuah taman wisata dan daerah konservasi di semenanjung Pangandaran yang tepat membelah Pantai Barat dan Pantai Timurnya.

Serasa dejavu, saya keluar masuk jalan setapak, hutan kanopi, gua-gua khas pantai selatan dan padang penggembalaan mirip di Cidaon, Ujung Kulon. Jika terakhir kali saya mengambil jalur mudah (trek yang telah dipaving) kali ini kami benar-benar menerabas jalan tikus berasa Indiana Jones (berlebihan!) sampai akhirnya tiba juga di Pantai Pasir Putih.

Leli dan saya langsung tergoda untuk main-main air sementara yang lain lebih suka duduk-duduk menunggu matahari terbenam yang sayangnya malu-malu dan langsung gelap.

Lapar yang teramat sangat. Malam itu lima orang dari Jakarta sempat terdiam beberapa menit karena konsentrasi menghabiskan ikan bakar, udang saus mentega, cumi saus tiram, kerang saus padang, tumis kangkung terasi dan pete bakar spesial buat Leli.

Bertahun-tahun kenal, baru kali ini saya lihat Mia makan nasi banyak banget, bahkan nambah. Gak percuma adu tegang otot sama mas-mas di Karya Bahari supaya dapet harga murah, 211 ribu aja buat berlima.

Perut terisi, Kamar dingin. Capek. Apa lagi yang lebih cocok daripada tidur? Dan begitulah, Fajar, Leli dan Mia tertidur kayak batu (baca: kebo!) sehingga mbak Ina nggedor-gedor pintu nggak dibukain. Begitu juga Fajar yang dengan asyiknya bilang, “Kirain lu lagi mandi di atas, makanya gue tidur-tiduran (dan) nggak denger suara ketok-ketok pintu” Huh!

Untungnya nginep di Sun-In (walau mahal dan kamarnya menghadap tembok kayak kos-kosan) adalah hotel ini berada di depan pantai Timur. Jadi, nggak susah-susah bangun pagi-pagi supaya nggak ketinggalan sunrise. Seolah membayar hutang, matahari muncul dengan sepenuh hati, terang sebundar-bundarnya.

Sesi foto selesai, sarapan bubur dan – hebatnya! – susu kental manis Bendera, kita nyempetin ke pasar di pojok Pantai Timur, nawar ikan goreng, ikan asin, udang yang dengan asyiknya ditaruh sama pak Tatang di balik kap mesin Innova. Belum pernah cium mesin Innova bau amis kan?

Cita-cita ke Karang Tawulan harus dikubur. Lamanya perjalanan nggak sepadan dengan pantai berkarangnya. Alhasil, kami meluncur menuju Batu Karas, tempat pertama kali saya melihat mbak Ina nyemplung ke pantai sampai setinggi pinggang. Bravo!

Body boarding dan cuci mata liat yang seger-seger seliweran keluar masuk air, bikin lupa kalo matahari udah tinggi. Rencana berikutnya ke Citumang terpaksa kami batalkan karena tidak ada yang merekomendasikan tempat itu.

Sebagai gantinya, kami langsung ngacir ke Tasikmalaya, cari makan yang enak tapi sayangnya beberapa restoran tutup. Eniwei, dua hari melelahkan ini seperti oase di tengah pekerjaan yang menumpuk. Tak salah jika ada yang bilang, “habis ini, mau kemana lagi kita?

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
A rewarding trip. My version.

I consider myself lucky as I could share my life and my time with those people with whom I could be vulnerable and grow together. This trip gave me ways to proof and live it.

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Thoughts
Traveling the Unknown

Very few – if any – people like to travel without itinerary, in uncertainty.