Kaos Kaki Bau

Thoughts
World Bank President Paul Wolfowitz is still being mocked for the holes in his dress socks, which were revealed when he visited a Turkish mosque.

World Bank President Paul Wolfowitz is still being mocked for the holes in his dress socks, which were revealed when he visited a Turkish mosque.

Terlepas tujuannya, detektor metal di bandara kadang lebih banyak ngerepotin terutama pas bawaan bagasi berat dan banyak.

Di Ninoy Aquino International Airport (NAIA), Filipina, saya sempat terkaget-kaget dengan prosedur buka sepatu sebelum melewati detektor metal.

Ribetnya, sepatu saya bertali dan terbiasa saya ikat kencang supaya nggak cepat lepas. Yang bikin malu, kaus kaki saya gak ada yang ujung jempolnya nggak bolong, termasuk yang saya pakai kali itu.

Biar gak dilihat semua orang, saya ngabur ke pojok untuk buka sepatu dan kaos kaki. Saya lebih baik buka kaos kaki daripada jempol saya ngacung. Karena tahu kaos kaki nggak akan bikin detektor berbunyi, saya sumpal aja kaos kaki ke kantung jaket. Aman.

Nggak cukup itu, petugas bandara minta saya naik ke atas platform kecil (mirip panggung) dan memeriksa sekujur tubuh – walaupun sebenarnya mesin pemindai tidak teriak-teriak.

“Do I have to?” tanya saya sewot.

“Yes, it’s standard,” jawabnya kalem.

Ya sudah lah, saya pikir cuma sekali ini saja. Ternyata, ketika melanjutkan pesawat ke Cebu, kejadian yang sama berulang lagi. Karena malas – dan koper berisi peralatan diving saya yang beratnya minta ampun – saya ogah buka kaos kaki. Bodo amat, kaos kaki bolong toh bukan cuma di Indonesia, pikir saya.

Dengan jempol mengintip dan muka kesal saya berdiri di depan puluhan penumpang yang mengantri di belakang sebelum akhirnya memasrahkan petugas bandara lagi-lagi menggeledah saya dan senyum-senyum lihat kedua jempol saya nongol.

Ketika mau balik ke Indonesia, saya sengaja pake loafer (sepatu tak bertali) tapi tetap pakai kaos kaki (bolong). Anehnya, kali ini mas-mas petugas bandara minta saya buka kaos kaki. Nah loh, apa lagi nih?

Males berdebat karena terburu-buru, saya lepas dan pegang kaos kaki bau yang umurnya sudah dua hari itu. Anehnya, ketika digeledah (lagi), petugas bandara yang cakep banget itu melewatkan daerah tangan saya yang memegang kaos kaki. Hidungnya yang mancung kembang kempis ngendus-endus kayak kerbau mau berantem dan sebentar kemudian tampangnya berubah galak.

“Can I keep my socks?” tanya saya polos.

“You should,” dengusnya kesal.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
Thank you 2017!

You gave me lessons to be happy with and continue life what I had; in this case, this carry on and backpack and the basic stuffs inside.

Life
Menjadi Keran

Saya kenal arti investasi jauh sebelum saya fasih apalagi terbiasa mengucapkannnya. Tak begitu jelas kapan saya mulai menghayati kata ini. Bisa jadi ketika saya diminta presentasi ‘mempertanggungjawabkan masa depan’ di depan orangtua saya, selang beberapa hari setelah diwisuda Oktober 1999. Berbekal coretan di selembar kertas A4, kemudian dilanjut dengan slide …

Life
Home Was Not As It Used To Be

I didn’t plan traveling – except for work – to any parts of Indonesia this year. Somehow, I decided to buy ticket to Ambon with no specific plan other than marking my ten years of diving. The dives were okay, but I spent the rest of the holiday as a …