Trilogi Lasem: Menanam Harapan di Lasem

Batik lasem dan warna merah-nya yang khas
Batik lasem dan warna merah-nya yang khas

Mendengarkan Ibu Omi bertutur sejarah batik Lasem, saya seperti terbawa ke seperempat abad silam. Saat itu, ibu saya tak pernah lupa mendongengkan kisah klasik Mahabarata hingga yang agak modern seperti Api di Bukit Menoreh, sesaat sebelum saya terlelap. Semua menyiratkan nilai luhur. Semua menanam harapan tinggi.

Terlahir sebagai generasi keempat pengrajin batik Lasem, wanita bernama lengkap Naomi Susilowati Setiono ini menyimpan kecintaan tersendiri dengan batik kampung halamannya.

Selepas SMA, keinginannya untuk kuliah arkeologi kandas karena ekonomi keluarga yang tak berpihak. Selain itu, “Sewajarnya perempuan mengurusi rumah”, begitu ujar orangtuanya.

Kecewa tak membuatnya lama berdiam diri. Hal pertama yang menarik perhatian Omi muda ternyata hanya sepelemparan batu dari jendela kamarnya.

Adalah mbok-mbok yang tekun membatik di belakang rumahnya yang menyita perhatiannya. Awalnya tidak berminat, kini ia menjadi salah satu sosok yang dijadikan referensi batik Lasem.

“Batik Lasem tidak pernah punah”, tangannya mengepal ketika ditanya seputar berita mengenai batik yang terkenal dengan warna merah darah ayam ini.

Apresiasi, regenerasi dan kondisi ekonomi ia tengarai membuat batik dari kota kecamatan di kabupaten Rembang ini kian sirna.

“Membatik adalah salah satu bentuk ekspresi”, ujarnya sembari menerangkan asal-muasal motif klasik Lasem bernama kericak. Motif ini ternyata dibuat oleh pembatik lawas yang ingin curhat tentang pahitnya pembangunan jalan Anyer – Panarukan (yang salah satu potongannya adalah jalan Raya Lasem sekarang).

Keinginan berekspresi itu juga lah yang menciptakan muasal motif tiga negeri, empat negeri, kawung, lok chan dan batik pagi-sore yang semakin sulit dicari itu.

Parahnya, walau banyak menuntut kebebasan berekspresi, tak banyak anak muda yang menyalurkannya lewat batik. Itulah sebabnya Ibu Omi kini giat mewariskan batik Lasem ke salah seorang putrinya.

Walau jumlah produksi saat ini jauh di bawah pengusaha batik tulis di Jogja, Solo atau Pekalongan, ia percaya batik Lasem tak akan punah.

“Saya tidak akan berhenti membatik”, begitu janjinya, menutup pembicaraan kami di halaman rumahnya yang asri.

Ibu Omi bisa dihubungi di Jl Karangturi Gg I/1, Lasem, Rembang, telp: 0295-531224.

Batik Maranata milik Bu Omi
Batik Maranata milik Bu Omi
Suasana membatik di workshop Bu Omi
Suasana membatik di workshop Bu Omi
Proses pewarnaan Batik Lasem
Proses pewarnaan Batik Lasem
1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.