Trilogi Lasem: Lasem, Nasibmu Kini…

Pengendara sepeda
Pengendara sepeda

Menapaki jalan Dasun yang sempit dan berdebu, berbatas tembok tinggi dan berpayung terik matahari pantai utara Jawa, mata kita dihibur atap-atap rumah berlanggam Cina khas perkampungan peranakan di jaman kolonial.

Tapi siapa sangka, hanya sedikit saja dari rumah-rumah tersebut yang masih dihuni pemiliknya. Dengan alasan ekonomi yang makin sulit, Lasem memang tidak sejaya beberapa ratus tahun lalu. Tak heran ia kini mulai dilupakan.

Tengok saja rumah besar milik keluarga Lie Bing Hien tak jauh dari pertigaan pasar Lasem. Konon rumah ini dibangun tak lama setelah Daendels menyelesaikan paruh Semarang – Panarukan dari proyek jalan Anyer – Panarukan.

Artefak peninggalan generasi pertama pemilik rumah masih bertebaran disana-sini. Perabotan hingga foto-foto leluhur yang tergantung di dinding. Ubin-ubin kusam hingga sumur kering di halaman belakang. Berada di dalam kediaman ini serasa tersedot mesin waktu ke dua ratus tahun lalu.

Berita bagus (atau sedih)-nya, rumah ini dijual!

Pemiliknya sekarang, Hartono – keturunan ke-6 keluarga Lie Bing Hien, sedikit demi sedikit mengalihfungsikan lahan yang tersisa. Jika bagian kanan halaman rumah sudah disulap jadi kios wartel dan warnet, Hartono berencana membuka usaha lain di bagian belakang rumah sembari menunggu pembeli yang berminat.

“Lasem sudah sepi”, ungkap Hartono sembari bersender di tembok pagar setinggi tiga meter di bawah pohon kweni, “usaha apa saja sulit. Jadi keluarga kami pindah ke Semarang.”

“Mereka (pemilik rumah) cuma ke sini (Lasem) dua bulan sekali, untuk menengok rumah dan membayar gaji penjaga”, ungkap salah seorang penjaga rumah yang tak jauh dari rumah Lie Bing Hien dan sebagian telah diubah menjadi toko ikan hias.

Jika bangunan-bangunan itu mampu bicara, mereka layaknya dongeng yang siap menceritakan kisah masa lampau Lasem. Jika saja pihak yang berkepentingan mau bekerjasama dengan pemilik rumah, menciptakan konteks cerita yang tepat, menyediakan akses dan transportasi, menyiapkan informasi yang memadai, wisata sejarah di Lasem nampaknya cukup menjanjikan.

Lasem memang tidak seberuntung kawasan kota tua Jakarta yang cukup berhasil merevitalisasi beberapa bangunan tua-nya. Getir rasanya membayangkan satu per satu bangunan tua di Lasem terjual. Berapa banyak saksi sejarah – dalam bentuk artefak kuno – yang terancam hilang atau dibawa terbang.

Lasem, nasibmu kini.

Photo Gallery:

Gerbang
Gerbang
Sepi
Sepi
Sudut rumah
Sudut rumah
Sudut rumah
Sudut rumah
Detil pintu Koboi
Detil pintu Koboi
Detil pintu Koboi
Detil pintu Koboi
Teras
Teras
Teras
Teras
Pintu Koboi
Pintu Koboi
Teras Belakang
Teras Belakang
Teras Belakang
Teras Belakang
Teras Depan
Teras Depan
No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
A rewarding trip. My version.

I consider myself lucky as I could share my life and my time with those people with whom I could be vulnerable and grow together. This trip gave me ways to proof and live it.

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Thoughts
Traveling the Unknown

Very few – if any – people like to travel without itinerary, in uncertainty.