Menikmati Frustasi di Pasir Pawon

Pasir Pawon
Pemandangan Bandung dari Pasir Pawon
Tak banyak orang ingin frustasi, tapi untuk Tanjakan Frustasi di Bandung barat ini, sempatkan waktu menjajalnya.
Wisata alam dan sejarah bisa didapatkan di Pasir Pawon, Desa Gunung Masigit, Padalarang. Selain trekking, gugusan batu-batu yang menghias puncak bukit adalah sebagian bukti mengenai Bandung pada jaman prasejarah. Jika tertarik, sempatkan pula mengunjungi Gua Pawon.
Jalur trekking menuju Pasir Pawon tidaklah sulit. Namun untuk bersenang-senang, jalur ini cukup menguras keringat.
Dari kaki bukit, persis di depan jalan berbatu menuju Kampung Ranca Moyan, gugusan batu-batu kehitaman yang konon dulunya adalah terumbu karang tersebar acak menghiasi bibir bukit.
Di sebelah kanan, Gunung Masigit menjulang namun ‘robek’ akibat penambangan. Masigit, menurut pemandu kami, artinya mushola. Dinamakan demikian karena dulunya ada mushola di sekitar gunung ini.
Jalur trekking sebagian besar berupa tanah berkerikil. Di beberapa tempat, batu besar dan kemiringan jalur yang tak kurang dari empat puluh lima derajat sungguh menantang untuk didaki. Menurut pemandu kami, tanjakan inilah yang bikin banyak orang kelelahan sehingga disebut Tanjakan Frustasi.
Di kejauhan, burung-burung sawah bergegas meninggalkan makanan, membelah langit keemasan dan gumpalan awan kelabu yang terpantul di petak-petak sawah yang masih berair.
Matahari tinggal setengah jam lagi usianya. Saya bergegas menuju puncak bukit, tak ingin ketinggalan menyaksikannya tenggelam.
Puncak Pasir Pawon berupa dataran luas dengan semak pendek, rumput dan gugusan batu karang tajam yang bertebaran hingga ke bibir bukit. Batu-batu seukuran manusia hingga rumah, acak mengisi lansekap. Menurut KRCB, batu-batu ini terangkat dari laut karena proses geologis. Jadi, bisa dibayangkan, Bandung dulunya adalah Atlantis, alias dasar laut.
Semilir sejuk angin sore tak henti menyapu kulit. Hangat matahari sore memanja. Sayangnya, sore itu matahari malu-malu dan bersembunyi di balik awan ketika menuju peraduannya. Namun, siluet merah yang membingkai gumpalan awan justru menyajikan pemandangan yang dramatis.
Drama sepuluh menit itu berlalu sudah. Langit cepat berubah gelap. Kami bergegas turun. Tak disangka, ada jalur pintas turun menuju jalan raya Padalarang-Cianjur. Berarti, Tanjakan Frustasi kali ini tak harus jadi Turunan Frustasi!
Menuju Pasir Pawon
Pasir Paawon
Menikmati matahari terbenam dari Pasir Pawon
Dari Jakarta tempuh arah ke Bandung, masuk ke jalur Padalarang.
Untuk jalur singkat, berhenti di Desa Gunung Masigit (Mesjid Al-Ilham), ikuti jalur tanah melewati tambang kapur. Di ujung jalan, ikuti jalan setapak membelah ladang jagung hingga mencapai puncak bukit.
Untuk Tanjakan Frustasi, berhenti di Citatah, perhatikan papan informasi bertuliskan ‘Goa Pawon’. Ikuti jalur berbatu dengan kaki bukit di sebelah kanan. Trekking bisa dimulai dari kaki bukit, persis di depan desa Ranca Moyan.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.