Asyiknya jadi turis di Melbourne

Travel
Melbourne Visitors Centre at Federation Square

Pulang dari Melbourne, saya langsung gemas dengan Jakarta. Bukan karena bersihnya. Bukan pula disiplin orang-orangnya. Saya tahu pasti sulit (baca: hampir mustahil) mengubah keduanya. Yang bikin gemas adalah niat pengurus kota Melbourne menyediakan informasi yang lengkap, mudah dan akurat pada turis.

Untuk orang yang malas bertanya tapi tidak ingin sesat di jalan, internet jadi sumber informasi utama sebelum dan ketika melakukan perjalanan. Namun jika tidak sempat riset, pusat informasi turis biasanya jadi tempat pertama yang saya buru.

Melbourne Visitor Centre terletak di kompleks Federation Square, secara halus memaksa pelancong mengagumi pusat kegiatan kreatif di kota ini.

Inside Melbourne Visitors Centre

Ratusan brosur, peta, petunjuk dan informasi cetak lain menyambut saya ketika memasuki tempat ini. Informasi dibagi berdasarkan minat (belanja, alam, sejarah, dll), lokasi (inner city, suburb cities) dan jenis paket wisata. Tanpa perlu bertanya pun saya langsung tahu apa yang perlu saya tuju.

Selain itu ada beberapa internet station berisikan informasi yang sama termasuk penawaran-penawaran mutakhir, seperti program diskon, agenda kegiatan dan paket wisata yang bisa customized. Jika belum cukup, di tengah ruangan beberapa petugas memberikan informasi penting untuk melancong di kota ini dengan sapaan khas-nya, “G’day Mate!”.

Freestanding information kiosk at Melbourne Visitors Centre

Iseng, saya menanyakan berapa lama waktu tempuh inner city tram. Dengan mantap petugas di depan saya, laki-laki berusia sekitar enampuluh, menjawab satu sampai dengan satu setengah jam.
Ketika saya menanyakan lokasi menyelam di dekat Melbourne, dia langsung memberikan sebuah buklet berjudul Diving Melbourne dan ternyata gratis.

Di pojok sana, jika tak sempat membeli oleh-oleh, dijual koleksi suvenir khas Melbourne maupun Australia. Agak mahal, namun sebanding dengan keramahan dan kesigapan pelayanannya.
Keluar dari tempat ini, saya jadi lebih mantap menghabiskan satu hari saya di Melbourne.

Namun sempat terlintas pertanyaan: pusat informasi turis di Jakarta di mana ya? Di pinggir jalan (tukang ojek), di dalam perjalanan (kernet bus) atau justru jangan bertanya karena malah akan lebih tersesat? Hmmm…

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.