Pulau Tunda a.k.a Postpone Island

Sunset di Pulau Tunda
Sunset di Pulau Tunda
Ekspektasi yang tinggi kadang butuh diimbangi usaha atau toleransi yang sama tingginya. Ketika melakukan perjalanan, opsi kedua mungkin lebih sering harus (baca: terpaksa) dijalani.
Sebagai tujuan wisata, Pulau Tunda tak banyak dikenal orang sampai ketika pada bulan January 2007, beberapa media menyorotnya walau bukan karena potensi wisatanya. Sedikitnya informasi yang tersedia membuatnya kadang luput dari peta perjalanan wisata di sekitar pulau Jawa. Padahal, beberapa blog pribadi memberikan rekomendasi positif kepada Pulau Tunda sebagai destinasi wisata laut.
Karena jasa baik Ridwan yang sering mengorganisir dive trip ke pulau ini saya dan beberapa teman akhirnya berkesempatan untuk membuktikan rekomendasi tersebut.
Pulau berpenghuni 1,037 jiwa ini dapat dicapai dalam 3jam perjalanan dengan kapal motor dari pelabuhan Karangantu, Cilegon. Hampir seluruh sisi pulau berbentuk lonjong ini memiliki spot yang menarik untuk dijelajah, menjadikannya tempat yang ideal untuk menghabiskan akhir pekan dengan bersnorkeling atau menyelam.
Hard coral warna-warni banyak ditemukan di dasar perairannya dengan ikan hias berbagai jenis yang masih setia menjadikannya sebagai rumah. Kami bahkan sempat melihat ikan buntal sepanjang hampir 1 meter berenang pelan sambil mengerling ke arah kami.
Dibandingkan beberapa pulau terdekat di kawasan kepulauan Seribu, Pulau Tunda masih lebih perawan. Hanya saja, fasilitas di pulau ini banyak yang perlu dikembangkan apalagi jika ingin dijadikan tujuan wisata komersil.
Saya sempat berkomentar ke Ridwan tentang perlunya akomodasi yang lebih nyaman dan variatif, pantai yang lebih bersih sampai frekuensi kapal motor yang perlu ditingkatkan. Fasilitas yang ada sekarang sudah memadai, namun jadi kurang jika acuannya adalah Bali, Lombok dan Bunaken.
Makanya, untuk saat ini, tak selayaknya membandingkan Pulau Tunda dengan daerah-daerah tersebut. Di sinilah saya harus berbesar hati. Pulau ini memang bukan Bunaken. Namun pengalaman berakhir pekan di Pulau Tunda jadi jauh lebih berkesan dibandingkan weekend di mall di Jakarta, dengan biaya yang sama bahkan lebih sedikit.
Apel memang tidak bisa dibandingkan dengan buah kiwi. Tapi apel yang satu ini, selain cukup enak dan murah, ia tumbuh tak jauh dari rumah kita.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Life
A rewarding trip. My version.

I consider myself lucky as I could share my life and my time with those people with whom I could be vulnerable and grow together. This trip gave me ways to proof and live it.

Thoughts
Indonesia. (In)complete.

Twenty four hours was not enough to explore the City of Bengkulu, let alone the province. But twenty four hours was enough for me to say that I was inspired by a mix of worry, quirkiness, gratefulness, hatred, pride and acceptance. Life feels more present with a mix of these feelings; I felt alive too.

Thoughts
Traveling the Unknown

Very few – if any – people like to travel without itinerary, in uncertainty.