Meredefinisi Teman

Pulau Panggang
Pulau Panggang

Mereka yang kita anggap teman tak selalu beranggapan sama tentang kita. Mereka yang kita anggap musuh tak melulu menyimpan benci setara.
Adalah Bapak Maman yang mengusik benak saya selama perjalanan ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu dengan kalimat singkatnya, ‘cari teman nggak segampang cari musuh’.
Dua puluh tahun berprofesi sebagai mekanik mesin kapal, lelaki dengan wajah yang terlihat lebih renta dibanding usianya yang limapuluh lima tahun ini, akhirnya merasakan manisnya bekerja.
Bukan materi, bukan pula status, namun sekumpulan orang yang, selama dua puluh tahun, berevolusi secara alami menjadi teman. Dan definisi unik bapak beranak delapan ini seolah menghentak saya untuk kembali memikirkan, siapa teman saya dan siapa yang menganggap saya teman?
Pernah ditawari menjadi pegawai negeri di tahun tujuhpuluhan, Pak Maman memilih untuk bekerja sendiri, membantu awak kapal yang kesulitan dengan mesin mereka. Begitu banyak merek dan jenis mesin kapal yang pernah tersentuh tangannya, mulai dari merek lawas seperti Yanmar, Johnson dan Yamaha hingga beberapa nama yang asing di telinga.
‘Bisa ketemu banyak orang, bisa kenal banyak orang’, begitu jawabnya ketika ditanya kenapa memilih bersolo karir. ‘Mana tau dari kenalan jadi teman, apalagi saudara.’
Tapi kini, rambut lusuh hitam-abuabu-nya seolah ingin meneriakkan kelelahan yang luarbiasa. Kerut di dahi menggumamkan keinginan beristirahat yang amat sangat. Namun ketika ia bicara, senyum tipisnya membuyarkan aura lelah dalam sekejap.
Pak Maman sudah tak lagi memperbaiki mesin kapal lima tahun yang lalu. Pelanggannya yang sebagian besar nelayan dan awak kapal Muara Angke, Marunda, Sunda Kelapa dan Pulau Seribu, mulai beralih ke teknisi yang lebih muda yang berani mengaku ahli setelah berhasil memperbaiki satu-dua kapal.
Namun, Pak Maman hanya berderai tawa menjawab pertanyaan saya apakah ia sempat merasa tersaingi. ‘Kalau udah tua, wajar aja jarang yang pakai,’ ujarnya seolah mahfum. ‘Yang penting saya baik-baik sama mereka”.
Dan kini, dengan kesehatan yang semakin merosot, Pak Maman masih saja menyempatkan bekerja sebagai buruh bangunan dengan upah harian yang tidak pernah cukup menghidupi lima anaknya yang masih tinggal seatap.
Sayangnya, sudah hampir sebulan ia menggantungkan alat tukangnya. Penyakit ‘misterius’ yang menggerogoti kekuatannya, mulai dari sesak napas, batuk hingga luka yang tak kunjung kering di sekujur tubuh, membuatnya tak nyaman berdiam diri sementara rekan-rekannya sibuk bekerja.
Memang, satu ditambah satu tak melulu jadi dua; kebaikan yang disemai tak melulu berbuah manis. Dengan napas yang dicicil, ia berucap lirih “Saya nggak enak dengan ucapan mandor yang juga saudara saya yang bilang saya jadi beban di sana (proyek bangunan), jadi lebih baik pulang berobat”.
“Tapi kan itu saudara Bapak?”
“Saya anggap begitu, tapi mungkin mandor saya itu nggak. Saya ingat pernah bantu usaha bengkel mesin kapalnya sebelum bangkrut karena dicolongin anak buahnya”
Sekarang, Pak Maman berencana untuk kembali menetap di pulau Panggang bersama keluarganya. Entah pekerjaan apa yang akan ia lakoni. Satu hal yang ia sampaikan ke saya sebelum pamit, “Dek, jangan segan-segan mampir ke rumah saya kalau ke Pulau Seribu. Anggap saja ini rumah sendiri, anggap saja Bapak temen adik, jadi nggak perlu sungkan”

Pak Maman, kalau saja semua orang seperti lelaki tua ini.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.