Pulau Seribu: Pulau Pramuka, Pulau Karya, Pulau Panggang: 1-2 Juli 2007

Di Pulau Karya
Di Pulau Karya

Kadang saya nggak percaya, berapa banyak orang yang termakan oleh ‘jualan’ saya. Dan daftar itu bertambah ketika dua keponakan saya, Geri 15 tahun dan Kiki 10 tahun, jadi antusias nyemplung ke laut setelah mendengar cerita saya di Bunaken.

Berbekal riset internet dan tanya sana-sini, kami memutuskan untuk one day trip ke Pulau Pramuka. Ketika ditanya apa sudah siap, Kiki bilang, “ready as you wanna be, mister!” Duh, anak jaman sekarang…

Menuju Muara Angke, kami menumpang busway sampai ke terminal Kota dilanjutkan dengan taksi. Sebenarnya ada metromini nomor 30 (Kemayoran – Muara Angke) yang bisa kita tumpangi, namun kami tak ingin bermain dengan resiko terlambat.

“Puih, bau!” begitu kata Geri.

“Wangi ikan, Om!” kata Kiki sambil cengar-cengir.

Pelabuhan Muara Angke yang luasnya cuma secuil itu persis berada di belakang pasar dan pelelangan ikan Muara Angke yang jauh dari nyaman dan wangi. Jadi jangan harap ada jalan kering dan bersih menuju pelabuhan.

Kapal motor Kelvin (atau calvin??) yang direkomendasikan ternyata sudah tidak lagi beroperasi sejak sekitar satu tahun yang lalu. Karena tidaka da referensi, ditambah tidak ingin terlambat, kami langsung lompat ke KM Bintang Alam 2 yang mesinnya sudah meraung-raung tanda segera berangkat.

Sekitar enam puluh dari kapasitas seratus penumpang mengisi kabin depan, belakang dan atap. Kalau saja saya tidak membawa anak dibawah umur, pasti saya sudah nongkrong di atap menikmati angin laut teluk Jakarta.

Tapi saya tak terlalu lama menyesal karena perjalanan saya ditemani ngobrol oleh Pak Maman yang hendak pulang ke Pulau Panggang menemui keluarga. Pak Maman dan cucunya beberapa kali bahkan meladeni bawelnya Kiki yang bertanya nama pulau yang kami lewati.

”Pak, di Pulau Panggang ada mal gak?”, dan Pak Maman cuma mesem-mesem.

Dua setengah jam kemudian kami bersandar di dermaga pulau Pramuka; pulau yang terlihat beda dibanding pulau di sekitarnya karena digawangi sebuah bangunan rumah sakit mentereng yang masih kinclong.

Tapi, atas saran Pak Maman, kami lanjut ke Pulau Panggang yang jaraknya sekitar 500 meter. Ya, rencana awal one day trip kami akhirnya digoda oleh tawaran menginap di rumah Pak Maman. ”Gak usah bayar”, katanya.

Pulau Panggang, berpenduduk sekitar 4000 jiwa, nampak sesak dengan deretan padat rumah semi permanen di hampir seluruh sisi pulau. Ketika menyambangi rumah Pak Maman di bagian tengah pulau, tak jauh dari dermaga utama, saya langsung teringat rumah orang tua saya di Cengkareng. Kawasan padat penduduk dengan jalan sempit dan minim ruangan terbuka hingga memungkinkan interaksi yang ”sangat” intens antara penghuninya. Terpaksalah saya harus sering-sering obral senyum.

Lucunya, daging ayam yang tadi sempat mengusik perhatian saya di kapal, ternyata sekarang sudah terhidang lengkap dengan nasi dan sambalnya di depan saya. Ya, sebagian besar bahan makanan yang dibutuhkan penghuni Pulau Panggang masih diimpor dari Jakarta. Khusus unggas, setelah wabah flu burung, tidak boleh lagi ada ayam dipelrihara di permukaan pulau ini.

Putri Pak Maman, Mpok Mumun (ada kemiripan???), mengajak kami menuju pulau Karya yang jaraknya lebih dekat lagi dari Pulau Panggang untuk bertemu suaminya Mas Eko yang akan jadi calon tuan rumah kami untuk menginap nanti malam.

Walau cuma berjarak 200-an meter, Pulau Karya jauh berbeda dengan Pulau Panggang. Pantai landai berpasir putih dengan air jernih kehijauan, semak belukar yang tumbuh seenaknya dan kawasan budidaya mangrove di satu sisi membuat pulau ini terasa lebih alami.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, setelah berbasa-basi sebentar dengan mas Eko, kami berhasil mengitari pulau ini. Tak besar memang, sebab isinya cuma kantor polisi dan beberapa rumah dinas departemen yang salah satunya akan jadi empat kami menginap nanti.

Kegiatan pertama: latihan snorkeling. Sebenarnya pulau ini nggak punya lokasi snorkeling yang bagus-bagus amat, habis jangankan ada ikan, koral pun nggak terlihat. Tapi, karena judulnya ingin belajar, jadilah kita cibang-cibung di sekitar dermaga.

Melihat Kiki pertama kali ngapung dan berenang hilir mudik dengan snorkel terjulur ke udara, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu ketika mencoba si belalai bening ini. Beberapa kali kemasukan air laut, takjub ”bisa” melihat dasar laut sekaligus cemas terbawa arus, menghias pengalaman saya snorkeling di Pulau Kangean, Madura.

Dua jam berlalu, sip, kita sudah siap pergi ke spot berikutnya: Pulau Pramuka. Tapi, makan dulu. Apalagi kalo bukan ayam goreng pesanan Mpok Mumun. Ternyata enak juga, mungkin karena kita semua kecapen mengaduk-aduk isi pantai yang minim pemandangan selain pasir dan pecahan karang itu.

Bermodal ojek perahu antar pulau bertarif dua ribu perak perkepala, kami tiba di dermaga pulau Pramuka. Menurut Pak Sabihis dari Elang Ekowisata, ada dua spot yang sering dikunjungi untuk snorkeling yaitu sekitar dermaga dan di kawasan Baliho. Tapi, pastinya bukan dermaga tempat ojek perahu kami merapat, sebab air disini keruh.

Setelah tanya sana-sini, ternyata dermaga yang dimaksud adalah yang di sebelah kiri dan kanan (ada tiga area dermaga di satu sisi pulau ini). Karena bingung, kita iplih dermaga kiri karena terlihat sepi. Karena perairan ini terkenal dengan arusnya yang cukup kuat, saya memutuskan untuk bersnorkeling berdua-dua, dengan saya sebagai guide-nya. Ceile… padahal tiga tahun lalu masih trauma ke pantai…

Weleh, ikannya sih lumayan banyak, terus koralnya ya … so so, tapi pasirnya bejibun. Alhasil, setelah muter disana-sini, airnya jadi keruh dan kita memutuskan untuk pindah ke sisi yang satu lagi yang ternyata lumayan jernih (lebih dikit pasirnya maksudnya) tapi nggak nyaman karena perahu dan kapal motor sering mondar-mandir. Selain mesti sering-sering ngeliat supaya gak nabrak dan ditabrak, ombak yang dibawa kapal-kapal itu juga bikin kita sulit bergerak maju.

Ya sudah, karena gak terlalu banyak yang bisa dilihat, kita langsung pindah ke Baliho dengan naik ojek perahu dan minta diturunkan di rumah apung yang juga berfungsi sebagai tempat penangkaran beberapa hewan laut yang dikhawatirkan punah.

”Ada hiu!” teriakan pertama Kiki ngeliat black tip reef shark hilir mudik di salah satu keramba berukuran 5x5m.

Tanpa ditemani guide – guys, don’t do this at home, we’re simply two crazy people! – saya dan Geri langsung nyemplung. Beberapa kali saya memberi instruksi arah yang harus dituju karena di banyak tempat, bulu babi siap menusuk kami.

Di bawah sana, ternyata ada penangkaran terumbu karang. Beberapa pagar kawat yang direbahkan dijadikan tempat tumbuh koral warna-warni. Bagus sih, tapi kok beberapa koral warnanya seperti imitasi ya? Kesannya, too good to be true gitu. Trus ada satu koral besar berwarna biru di kejauhan yang membuat kami langsung memburunya, dan ketika didekati, ternyata jaring nelayan yang nyangkut. Koralnya sendiri sih udah mati. Sialan!

Hampir satu setengah jam kami mengelilingi Baliho. Arus yang kuat membuat kami sulit bergerak apalagi ketika terkena imbas gelombang kapal yang lewat.

Secara keseluruhan, kawasan ini masih layak dikujunjungi. Tapi kalo tandingannya Bunaken atau spot lain di Indonesia timur, wah jauh deh.

Ketika balik ke rumah apung, di sana sudah ada satu keluarga yang sedang asyik wira-wiri di sekitar wisma apung. Ternyata mereka sedang liburan ditemani guide lokal. Dan di pojok sana, Kiki sedang duduk merengut.

“Om, lama banget sih? Kirain tenggelam…” rutuknya.

Ternyata Kiki sempat nangis karena, menurutnya, khawatir kami tenggelam atau terbawa arus. ”Takut ditinggal, kali?” dan Kiki cuma mesem-mesem.

Nampaknya kami terlalu lama di Baliho hingga kami tidak disarankan untuk pergi ke Pulau Semak Daun saat itu (pukul empat sore) karena terlalu jauh. Wah, padahal besok pagi kami sudah balik. Sayangnya!

Ya sudah, kami balik ke Pulau Karya untuk mengejar sunset. Matahari sore ini terlalu perkasa hingga tak satupun awan berani menutupinya. Jadilah sunset kali ini dihiasi matahari yang paling bundar, paling merah dan paling jernih yang pernah saya lihat. Kamera saya tidak berhasil menangkap semuanya; hanya lingkaran kecil di dekat horison di ujung sana.

Malamnya saya menghabiskan ngobrol-ngobrol dengan mas Eko dan beberapa perwira polisi yang ”dipaksa” pergi ke pulau terpencil oleh komandannya di Komdak sana karena besoknya ada perayaan ulangtahun Bhayangkari. Polisi kok mengeluh. Eh, polisi juga manusia, tau!

Karena sedang terang bulan, saya juga sempat mencoba memancing cumi. Dapat satu dan lumayan besar. Karena terlalu malam untuk disantap, saya sumbangkan saja ke Mas Eko untuk dijual keesokan paginya.

Tidur di Wisma, rasanya nyamaaan sekali. Nggak ada nyamuk, nggak ada panas, nggak ada pegel. Karena kamarnya dilengkapi spring bed dan AC. Wah, liburan berkelas nih.

Esok paginya, sekitar jam 7.30, kami langsung mengejar kapal motor menuju Muara Angke. Sebenarnya saya ingin kembali naik si Bintang Jaya. Tapi karena KM Raksasa datang duluan, kami langsung lompat. Lumayan, ternyata pengemudi kapal motor ini kenalannya mas Eko. Jadilah kami cuma membayar untuk dua kepala.

Dan, ternyata KM Raksasa lebih cepat setengah jam dibandingkan si Bintang Alam. Dari Pulau Pramuka kami berangkat jam 8 dan tiba di Muara Angke jam 10. Sayangya, mesin kapal ini begitu kerasnya sampai kami tidak bisa duduk, apalagi tidur di lantai kapal. Saya sempat merekam ”the dancing Aqua” yang bikin penumpang kapal cengar-cengir.

Ketika sedang di Metro Mini 30 menuju Kota dari Muara Angke, saya sempat menanyakan Geri tentang pengalaman snorkelingnya pertama kali. Jawabnya, ”Om, katanya minggu depan mau pergi ke Postpone Island kan? Ikut ya…”

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.