Beralas Pasir, Beratap Bintang

Pantai Barat Pangandaran
Pantai Barat Pangandaran

Seberapa sering kesempatan menghirup segar udara malam, sejuk pasir pantai di kulit dan pertunjukan gemerlap bintang di langit datang dalam sekali waktu di saat-saat menuju peraduan? Mungkin tak sering. Itulah sebabnya saya meneguhkan niat untuk merasakan bermalam di atas pasir Pantai Pangandaran bersama beberapa teman.

Tsunami di tahun 2006 yang menghempas pantai selatan Jawa masih meninggalkan jejaknya di Pangandaran. Jumlah wisatawan domestik maupun asing yang menyusut drastis berimbas pada kegiatan dagang di tepi pantai. Pedagang makanan, suvenir dan perlengkapan pantai tak seramai sebelumnya, bahkan di akhir pekan. Untunglah keindahan pantainya tak sedikitpun berkurang.

Pantai Pangandaran dapat dicapai dari Jakarta melalui perjalanan darat selama 7-8 jam ke arah Tasikmalaya. Namun kali ini, kami menuju Pangandaran dari Cilacap, destinasi wisata kami sebelumnya.

Kosong. Itulah sensasi pertama yang terlintas saat menjejakkan kaki di pantai berpasir coklat ini. Pak Herman, seorang penjual makanan di sekitar jalan utama pantai ini, mengakui penurunan jumlah pengunjung sejak tsunami tahun 2005 lalu. Ia juga berseloroh mengenai usaha pemerintah mengembalikan pamor kawasan Pangandaran yang menurutnya masih kurang. Padahal, pantai yang terakhir saya kunjungi duapuluh tahun yang lalu ini, masih menyimpan potensi wisata bahari, apalagi untuk turis asing yang kerap memburu matahari dan gulungan ombak.

Setelah puas bermain air dan menunggu matahari terbenam di salah satu tebing dekat Pantai Putih – satu-satunya pantai dengan pasir putih di pantai barat Pangandaran – kami bergegas untuk menikmati makan malam di kawasan pantai timur. Kenyang dengan hidangan laut yang nikmat, saya bersiap-siap menikmati genitnya bintang bermain di kanvas malam pangandaran mengantar tidur dalam sleeping bag dan jaket hangat.

Untunglah malam itu cuaca cerah dengan udara sejuk dan angin semilir serta deburan ombak. Yang paling saya tunggu-tunggu ada di atas sana, jutaan bintang yang bersaing berebut perhatian saya dan ketiga teman yang memilih lembutnya pasir pantai daripada empuknya kasur penginapan. Saya bahkan harus berjuang keras melawan kantuk sebelum akhirnya terbuai irama malam dan memejamkan mata. Sebuah bintang besar, Venus mungkin, mengedipkan cahayanya sebelum saya benar-benar terlelap. Indahnya.

Paginya, kami bergegas mengejar sunrise. Jika di Manado saya mengantar matahari ke peraduannya, kali ini saya menyapa kedip pertama matahari pagi. Untuk memburu matahari terbit, seluruh sisi pantai timur cocok disambangi. Saya memilih duduk di seberang tempat makan semalam, tepatnya di atas batu-batu pemecah ombak yang cukup nyaman untuk menunggu semburat lembayung pertama matahari pagi. Pagi itu barisan orang dengan niat yang sama telah berjejer rapi di sebelah saya.

Sedikit demi sedikit, selama kurang lebih enam menit, bundar matahari terus membesar sejak mengintip hingga akhirnya mengusai cakrawala. Semburat lembayungnya menggantung cukup lama di ufuk timur sampai akhrnya tergantikan langit biru yang bersih. Ah, akhirnya saya bisa menjadi saksi satu lagi kelahiran penguasa langit siang. Seluruh perjalanan yang cukup melelahkan kemarin rasanya terlunasi.

Pantai Pangandaran bukan satu-satunya obyek wisata di kabupaten Ciamis. Mengingat jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, kami segera bergegas beranjak menuju Green Canyon, di desa Kertayasa, kecamatan Cijulang. Kawasan sungai ini dapat ditempuh sekitar 20-30 menit berkendara ke arah selatan Pangandaran. Perjalanan menyenangkan saya dihibur dengan kelokan dan tanjakan serta turunan tebing, bukit bahkan pantai selatan di sisi jalan.

Perahu bermotor tunggal melepas kami dari dermaga Ciseureuh menyusuri sungai dengan air hijaunya yang di beberapa lokasi bahkan berwarna toska. Sayangnya rasa keingintahuan saya tidak terpuaskan oleh penjelasan pengemudi perahu kami. Ah, pe-er untuk saya cari jawabnya di rumah nanti.

Beberapa kali saya mendapati biawak yang sedang berjemur di tepi sungai. Konon, hewan penghuni pepohonan, seperti kera, sering terlihat bergelayutan di pohon. Mungkin ramai jalan di tepi kiri dan kanan sungai yang membuat mereka enggan menampakkan diri hari ini.

Melewati belokan terakhir, kami melihat sebuah formasi batu berbentuk gua dengan juluran stalaktit di hampir setiap sisinya. Wah, akhirnya kami sampai di lokasi terakhir yang bisa dijangkau perahu di lokasi wisata yang kerap disebut Cukang Taneuh yang artinya jembatan tanah ini.

Di sini, laju sungai yang terhalang batu membentuk bendungan alami yang memaksa kami menambatkan perahu. Udara hangat segera berubah dingin, akibat lingkungan lembab yang mirip gua ini. Gemericik air yang jatuh dari atas sana mengalihkan mata untuk segera menemukan begitu banyak sumber air yang bermuara di atap batu.

Konon, pengunjung yang bisa sampai ke titik ini bisa dianggap beruntung. Kenapa? Sebab hanya pada saat cuaca cukup cerah tak berhujan saja pengunjung dapat melanjutkan perjalanan masuk ke dalam dengan berenang. Ya, bendung alami membuat sungai di bagian ini seperti sebuah danau panjang yang sangat nyaman untuk dijelajahi dengan berenang.

Segar air sungai segera meliputi tubuh mengiringi saya menuju ke ujung canyon. Saya sarankan untuk menggunakan pelampung agar bisa lebih santai melihat-lihat formasi dinding canyon yang dipenuhi stalaktit dan floorstone berlumut.

Di ujung sana ada sebuah batu besar setinggi 5m tertimpa air terjun yang lebih mirip shower, mengundang saya dan beberapa teman untuk memanjatnya. Caving di Serawak ternyata cukup sebagai modal untuk memanjat dinding licin yang tak pernah kering ini. Walau berhasil sampai ke atas, saya tak cukup nekat menerima ajakan teman untuk menceburkan diri ke bawah.

Puas mendinginkan tubuh di Green Canyon, saya segera bergegas untuk berangkat menuju pantai Batu Karas yang terkenal dengan ombaknya yang kuat.

Kurang lebih dua puluh menit berkendara kami telah tiba di pantai yang terletak di sebuah teluk kecil yang diapit dua buah gugusan karang besar. Benar saja, ombak yang kuat – walau tidak tinggi – menampar pantai tanpa henti. Ketika saya mencoba body boarding mengandalkan berjalan ke tengah, kuatnya ombak terus menerus menghempas saya ke tepi pantai. Ah, mungkin di lain waktu saya akan belajar selancar dulu sebelum ke sini lagi.

Tepat di sore hari, saya meninggalkan pantai ini menuju Jakarta dengan oleh-oleh beberapa luka di kaki dan dada akibat tergores batu karang dan sebuah janji: saya harus bisa berdiri di atas papan selancar mengendarai ombak besar Batu Karas. Semoga.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.