Bersahabat dengan Keremangan di Taman Nasional Gunung Mulu

Gunung Mulu National Park
Selamat datang di Gunung Mulu National Park
Alkisah berpuluhjuta tahun yang lalu, perut bumi Borneo bergolak menciptakan beratus rongga, beribu ceruk dan berjuta lekukan, lipatan dan patahan. Kini Anda dapat menikmatinya dalam bentuk jadi yang jauh lebih indah dibandingkan proses terbentuknya yang sangat rumit.
Taman Nasional Gunung Mulu terletak di ujung timur negara bagian Serawak, Malaysia Timur. Walau kaya akan koleksi flora dan fauna, satu dari sembilan taman nasional Kerajaan Malaysia ini justru lebih terkenal karena rongga perut buminya yang lebih akrab disebut gua.
Mendengar kata gua, kebanyakan orang langsung berimajinasi akan sebuah tempat gelap yang lembab serta kumpulan binatang dengan bentuk yang tidak familiar. Uniknya, pengelola taman nasional ini menumbangkan citra tak sedap itu dengan membuat sebuah tempat rekreasi yang aman dan edukatif.
Show cave
Show cave in Mulu
Di ke-empat gua yang dibuka untuk pengunjung seluruh umur – Deer, Langs, Wind dan Clearwater – jalur pengunjung dibuat rapi, terang, aman dan nyaman.
Selain keamanan dan kenyamanan, beberapa papan informasi dipasang sepanjang jalur pengunjung; menjelaskan berbagai istilah formasi gua mungkin asing bagi pengunjung seperti stalaktit, stalagmit, flowstone, moonstone, dan lain-lain. Pemandu yang profesional pun tak segan menghentikan rombongan pengunjung untuk melihat dari dekat dan menerangkan terbentuknya beberapa formasi gua.
Jangan puas dengan hanya melihat. Anda yang bernyali lebih tak akan puas tanpa mencoba adventure caving. Masuki beberapa gua yang diijinkan untuk dijelajahi – Turtle, Lagangs, Racer, Stonehorse, Clearwater Connection, Sarawak Chamber – dan dijamin adrenalin Anda akan mengalir deras.
Anda harus memiliki sertifikasi untuk mengikuti wisata adventure caving. Sertifikasi yang dikeluarkan oleh beberapa badan internasional ini menentukan gua mana yang boleh Anda masuki.
Tanpa sertifikasi, saya diijinkan memasuki Lagangs Cave – sebuah gua yang diperuntukkan caver pemula. Walau diianggap paling mudah, tak pelak otot saya dipaksa mengalahkan tanjakan, tebing, patahan, retakan bahkan mengarungi sungai bawah tanah. Semuanya dilakukan dalam keadaan minim cahaya – hanya dibantu oleh cahaya LED di helmet.
Tiga setengah jam berada dalam gelap – bertemu kepiting transparan, cacing tembus pandang, laba-laba berkaki panjang, dan ular yang nyaris buta – akhirnya saya tak kuasa berteriak gembira ketika bertemu kembali dengan cahaya matahari dan udara segar.
Canopy Walk
Canopy Walk
Di penghujung perjalanan di taman nasional ini, saya menyempatkan melihat kehidupan hutan Mulu dengan mengelilingi kanopi di atas pohon. Dengan panjang 480 meter, kanopi ini disebut-sebut sebagai yang terpanjang di dunia. Tak banyak binatang yang saya lihat dari atas kanopi setinggi 15-25 meter ini. Namun, pengalaman “melayang” di atas hutan tropis ini benar-benar tak bisa dilupakan.
Jika beruntung, pergilah ke Deer Cave menjelang sore dan Anda akan menyaksikan pemandangan menakjubkan. Ribuan bahkan jutaan keleawar “ngibrit” keluar gua dalam waktu bersamaan menciptakan kabut gelap dan gemuruh keras layaknya raksasa malam yang terbangun dari peraduannya di Deer Cave.
Menuju Taman Nasional Gunung Mulu:
Dari kota-kota besar di Malaysia (Kuala Lumpur, Kuching, dll), tumpangi pesawat (Malaysia Airlines atau Air Asia) menuju Miri atau Kota Kinabalu. Dari Miri/Kota Kinabalu, naik pesawat (Malaysia Airlines, Fly Asian Xpress) menuju Mulu.
Alternatif lain, tumpangi boat dari Kuala Baram di Miri, melintas sungai Baram menuju Marudi. Dari Marudi, tumpangi boat menuju Long Terawan. Dari Long Terawan, sewa-lah perahu menuju Taman Nasional Gunung Mulu. Total perjalanan melalui sungai adalah sepuluh jam.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.