Perjalanan Setinggi Seribu Plus Sepuluh Meter di Manado

Apa yang bisa menumbangkan ‘belum’ selain ‘pernah’? Apa yang bisa mengantarkan ‘suka’ dan ‘hobi’ selain ‘pernah’? Kata ‘pernah’ pulalah yang menjadi alasan libur saya kali ini. Dengan tujuan ‘yang penting pernah’, akhirnya saya menetapkan akan menjajal menyelam (diving) di Manado. Ya, yang penting pernah mencoba; siapa tahu suka, atau bahkan jadi hobi?

Hari 1

Lepas landas pesawat Lion Air yang tidak terlalu mulus di pagi buta sempat membuat saya dan kedua teman perjalanan, mbak Ina dan mbak Debby, sedikit grogi. Untunglah, kurang lebih dua jam kemudian kami dihibur pemandangan cantik di bawah sana: pulau-pulau kecil di sekitar teluk Tomini (sul-ut dan sul-teng) dengan pantai putih dan karang yang menghijau-biru berebut perhatian kami.
Di Manado pasti lebih bagus lagi, begitu kata mbak Ina, membanggakan tanah kelahirannya. Saya manggut-manggut, bukan cuma sedang membayangkan, tapi juga karena badan pesawat yang terantuk awan.
Setiba di bandara internasional Sam Ratulangi, kami disambut berita bagasi mbak Debby yang “jalan-jalan” ke Ternate. Bukan pertama kali saya mengalami hal seperti ini dengan Lion Air. Untunglah mas Spener melayani kekesalan kami dengan senyum yang tak pernah lepas; lumayan lah bikin kami jadi agak ‘lapang dada’.
Karena kegiatan laut menjadi tujuan utama, setelah dijemput Lourens yang masih sepupu mbak Ina kami menuju NDC (National Diving Centre), sebuah diving operator (div-op) di Manado, yang ada di daftar kami. Setelah itu kami menuju Thalasse di Hotel Santika, 7 km dari NDC. Kedua div-op ini berada di utara kota Manado. Jika NDC berada di pantai Molas, Thalasse berada di Tanjung Pisok, daratan paling menjorok dan paling dekat dengan pulau Bunaken. Saking dekatnya, serasa bisa mencapainya dengan berenang. Silakan aja kalau kuat, mas…
Perut yang meronta-ronta, apalagi Lion Air dengan teganya membiarkan penumpangnya kelaparan tanpa disuguhkan makan pagi, memaksa kami mengarahkan kendaraan ke Tjie Mei. Selama perjalanan menuju pusat kota Manado, saya mendapati begitu banyak gereja dari berbagai aliran tersebar di tepi kiri dan kanan jalan utama. Saya bahkan sempat tanya ke mbak Ina, “Banyak banget gereja-nya, ada yang datang gak?” Pertanyaan bodoh, sebab mayoritas penduduk Sulawesi Utara memeluk agama Kristen dan Katolik.
Terletak di jalan Sudirman, persis di depan hotel kuno Ahlan, rumah makan Tjie Mie sangat sederhana dengan menu yang ternyata lumayan ‘nendang’. Menu yang dipilih apalagi kalo bukan Tinutuan, bubur multi-rasa yang terkenal itu. Sayangnya, penampilan Tinutuan yang ajaib kurang bersahabat dengan mata hingga memaksa saya memesan mie Cakalang dan sambel lobaknya. Selain itu, perkedel ikan nike (baca: ni-ke, gak ada hubungannya dengan merek sepatu olahraga) jadi camilan yang gak kalah “lucu”. Sebagai pencuci mulut, apalagi kalo bukan es kacang merah dan gohu pepaya muda. Nyam…
Kenyang perut, seperti biasa, saya sempat terkulai ngantuk. Tapi, perjalanan menuju div-op Murex sayang dilewatkan. Kami melewati daerah Malalayang, menyusuri pantai sebelah selatan Manado dengan tebing yang cukup terjal hingga dimanfaatkan penduduk setempat untuk mendirikan warung-warung kecil yang menjual pisang goreng. “Wah, tujuan berikutnya nih!” gumam saya.
Murex satu dari sedikit div-op di selatan kota Manado. Dengan jetty yang lumayan panjang memungkinkan div-op ini mengoperasikan perahu motor berbadan lebih besar. Beberapa nelayan yang terlihat sedang ngobrol santai di ujung jetty menarik perhatian saya. Ternyata selain menjadi nelayan, mereka juga bekerja mengoperasikan perahu-perahu Murex.
Penghasilan mencari ikan tidak lagi mencukupi, itulah alasan yang sempat mereka utarakan ketika saya tanya kenapa tidak menjadi nelayan penuh waktu. Ternyata, setelah Bunaken resmi menjadi taman nasional yang dilindungi, mereka harus menjangkau perairan yang cukup jauh untuk mendapat ikan. Kondisi perahu yang tidak memadai membuat mereka tidak bisa sering-sering mencari ikan. Sempat trenyuh; kisah seperti ini sering sekali terjadi. Pembangunan, bukan cuma pariwisata, seringkali menyisakan korban yang kadang tak terdengar.
Tepukan tangan mbak Debby menyudahi obrolan singkat saya dengan para nelayan itu. Kami bergegas menuju salah satu warung pisang goreng untuk menanti sunset pertama di kota Tinutuan ini. Wah, awan mendung nampak sirik dengan matahari. Sayang sekali kami tak bisa melihat matahari turun peraduan. Untunglah nikmatnya pisang goreng dicocol sambal bisa membuat kami sibuk.
Setelah bulan mengambil alih langit, kami mengarahkan kendaraan ke boulevard, kawasan modern kota Manado yang sengaja direklamasi tahun sembilanpuluhan, untuk makan malam di Sukur Jaya. Kepala ikan bakar, dari namanya saja sudah bikin ngiler, apalagi rica mentahnya yang bikin mantap. Seolah gak ada kenyangnya, kami juga pesan tumis paku dan kuah asam. Sebagai penutup, segelas es lemon cui membersihkan dan menyegarkan kerongkongan.
Urusan makan selesai, kami segera menuju ke Tomohon di kaki gunung Lokon, untuk mencapai tempat istirahat kami. Kali ini, liukan jalan di luar sana tidak banyak pengaruh; saya benar-benar lupa daratan alias terlelap. Sampai akhirnya saya melihat sebuah rumah panggung yang cantik di hadapan. Tak lama setelah itu, dinginnya kota Tomohon membuat tidur saya amat lelap.

Hari 2

Sunrise pertama saya di Manado sangat cantik. Apalagi disambut oleh pemandangan di luar jendela yang tak telupakan: gunung Lokon berlatar langit biru yang bersih. Segera saya menuruni tangga untuk langsung merasakan segarnya udara Tomohon.
Pertanyaan saya mengenai jumlah gereja di Manado segera terjawab pagi itu, dari jendela angkot yang saya tumpangi, saya melihat warga sekitar berbondong membawa alkitab menuju gereja. Saya? Apalagi kalau bukan pergi ke pasar.
Seorang teman sempat membuat saya penasaran dengan Pasar Tomohon. Menurutnya, jika beruntung, saya bisa melihat berbagai macam binatang diperjual belikan. Tidak untuk dijadikan peliharaan, tapi untuk disantap. Ayam, kambing, sapi dan babi adalah biasa; kucing, tikus, kelelawar, babi hutan, rusa, ular, biawak bahkan anjing dan kuda konon bisa saya temui. Walau sempat bergidig, saya melanjutkan perjalanan menuju pasar Tomohon, sementara mbak Ina menuju gereja.
Seperti di Jawa, pasar Tomohon letaknya dekat dengan terminal angkot, bersebelahan malah. Uniknya, pasar ini berada di kaki gunung Mahawu yang lumayan tinggi dengan pemandangan gunung Lokon yang tak terhalangi.
Beberapa kios pagi itu tutup; ternyata hari Minggu bukan hari pasar, karena sebagian besar warga pergi ke gereja. Ah sayangnya. Tapi, benda hitam di salah satu kios nampak dari kejauhan. Ya, untuk pertama kali saya melihat guguk alias anjing yang telah diasap. Kuduk saya langsung meremang, membayangkan anjing tetangga di Jakarta dengan bulu indahnya. Saya masih belum terbayang bagaimana RW, nama untuk daging anjing, bisa dimakan.
Di kios sebelah ada deretan tubuh kelelawar yang sudah menghitam gosong. Paniki, begitu namanya, sudah familiar untuk saya, walau baru kali ini saya meilhat aslinya. Kata penjualnya, kelelawar ini adalah hidup di hutan yang makan buah-buahan. Kebanyakan diburu di hutan-hutan di Sulawesi, terutama di Sulawesi Selatan.
Ada juga babi hutan yang ternyata rambutnya kasar, kaku dan keras seperti ijuk, jauh berbeda dengan dagingya yang katanya endang-nendang. Di seberangnya, kepala miss Piggy yang tergeletak disamping cincangan tubuhnya sempat membuat saya tersenyum miris; hebatnya, ada senyum tergurat di wajah miss Piggy. No comment deh buat yang satu ini.
Seorang pedagang memberi tahu untuk datang di pagi Selasa, Kamis dan Sabtu untuk melihat “koleksi” binatang yang lebih lengkap. Tapi, hari ini sudah cukup saya melihat benda-benda ajaib; saatnya melegakan pernapasan.
Setelah berkumpul di rumah panggung, saya dan mbak Ina memutuskan akan menjajal gunung Lokon. Mbak Debby? Apalagi kalau bukan berburu bagasinya.
Ditemani dua orang guide, kami mengawali trekking sekitar pukul 11 pagi, melewati pemukiman dan perkebunan penduduk. Kedua guide kami ternyata sudah tujuh tahun tidak pernah naik. Wah, sempat kecut juga!
Gunung Lokon yang terakhir meletus tahun 1991 (???) memiliki ketinggian 1,580 meter. Uniknya, letusan ini meninggalkan kawah yang letaknya di punggung gunung di ketinggian sekitar 1,000m, bukan di puncak gunung seperti umumnya. Kawah yang oleh penduduk sekitar sering disebut Lubang ini dapat dicapai oleh jalur yang disebut Batu Licin yang konon terbentuk karena aliran lahar dari letusan terakhir.
Trek Batu Licin dimulai persis ketika kami mencapai sebuah situs penambangan batu dan pasir di kaki gunung. Butuh waktu 1 jam dari rumah panggung kami untuk mencapai permulaan trek ini dengan kondisi trek sebagian besar cukup mudah dilalui dan beberapa kali menerobos alang-alang tinggi.
Nampaknya penduduk sekitar tidak main-main ketika memberi nama Batu Licin. Dari tempat kami berdiri, terlihat batu-batu besar yang telah ditumbuhi tanaman liar mendominasi beberapa puluh meter ke depan (atas). Setelah itu, batu-batu membentuk jalur yang hampir mustahil dilalui karena terlalu halus untuk di dipijak. Alhasil, bebeapa kali kami harus merayap untuk bisa maju terus.
Di beberapa titik, kondisi jalur yang tidak mungkin dipanjat tanpa bantuan tali memaksa kami untuk melipir mencari jalur alternatif. Salah satu titik bahkan memaksa kami untuk merayap miring dan langsung melompat karena terhalang gundukan tanah keras. Jadi ingat bajing terbang.
Di tengah perjalanan, kami sempat dihibur pemandangan kota Tomohon. Dari jauh, danau Tondano bahkan terlihat sebagian. Sayangnya, awan hitam yang bergulung di atas kepala membuat kami kecut dan buru-buru melanjutkan perjalanan.
Dua ratus meter sebelum mencapai Lubang, trek berubah menjadi jalur batu-batu berukuran sedang namun tajam memaksa kami untuk hati-hati karena, dengan kondisi lelah, terpeleset bukan cita-cita kami. Seratus meter sebelum Lubang, trek berubah lagi menjadi kerikil besar yang cukup sulit dijejak karena mudah bergerak. Trek ini tidak berubah sampai akhirnya kami mencapai Lubang.
Sebuah kawah berdiameter k.l. 200m, dengan dasar tak terlihat tertutup asap belerang yang senantiasa mengepul. Kali ini, sebagian besar danau Tondano telah terlihat. Sayangnya, yang tidak kami inginkan terjadi. Hujan yang sangat deras tiba-tiba mengguyur daerah sekitar Lubang. Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke puncak gunung dan segera turun dengan harapan hujan segera reda.
Benar saja, setelah sekitar dua ratus meter turun, hujan langsung reda. Namun, hujan menyisakan jalur yang akhirnya identik dengan namanya: Batu Licin.
Akibat hujan, perjalanan turun tidak lebih mudah dari naik. Saking sulitnya, mbak Ina sempat terjerembab di jalur yang licinnya seperti perosotan. Melihat keadaan trek, kami memutuskan untuk sebisa mungkin meluncur dan tidak menggunakan kaki untuk berpijak. Trik ini nampaknya lumayan efektif, namun perjalanan jadi lebih lama.
Bagian paling sulit ternyata belum lewat, sebab tiba-tiba saya mendengar suara yang cukup keras. Di balik saya, mbak Ina terduduk di tanah dan meringis sambil memegangi lututnya. Ternyata, suara keras tadi adalah mbak Ina yang “sukses” jatuh bebas dari batu besar di atasnya. Untungnya ia terjatuh di atas tanah berpasir.
Jadilah kami melanjutkan perjalanan turun dengan lebih hati-hati lagi. Kami membutuhkan waktu setengah jam lebih lama untuk menuruni trek dan tiba di awal penanjakan. Dari bawah, terlihat awan hitam yang masih menutup sebagian puncak Lokon. “Tadi kami disitu, di ketinggian seribu meter“ bisik saya sambil memandang Lubang.
Trekking (atau hiking?) yang melelahkan layak kami lengkapi dengan hidangan yang menggiurkan. Berbekal pengalaman tujuh tahun lalu, mbak Ina mengajak kami ke resto Ria-Rio, di sebelah resto Nelayan yang tak kalah kinclong, di daerah Malalayang. Menu kami adalah ikan baronang bakar yang lumayan lezat, telur ikan masak rica yang cukup gurih namun es lemon cui yang kurang menggigit. Tak apalah, besok pagi kami akan mencicipi kue jajan pasar khas Manado. Hmmm…

Hari 3

Berbekal cerita saya yang seringkali sukses membuat orang ngiri, mbak Ina dan mbak Debby mengajak saya kembali ke pasar Tomohon. Walau bukan hari pasar, pagi ini nampak lebih ramai dibanding kemarin. Ketika kami tiba, saya langsung melihat penjaja kue yang mangkal di bangunan terminal di depan pasar.
Panada (roti goreng berbentuk pastel isi cakalang), Lalampa (lemper ketan isi cakalang), apang (kue apam), pisang goreng, wajik dan entah kue apa lagi berpindah ke perut kosong saya. Ditambah sepiring nasi kuning Gorontalo dengan sambal cakalang-nya, cukuplah untuk modal perjalanan hari ini.
Lourens menyarankan kami pergi ke Woloan, sentra pembuatan rumah tradisional khas Minahasa, yang berjarak kurang lebih setengah jam perjalanan dengan mobil. Di sepanjang jalan menuju Woloan terlihat deretan rumah baik yang sudah selesai, setengah selesai bahkan yang mulai terlihat “antik” (baca: lapuk). Kami memutuskan berhenti di sebuah rumah yang telah 90% selesai dan bertemu Bapak Gerzon Wondal.
Sudah lebih dari dua puluh tahun Pak Gerzon membuat rumah adat Minahasa. Tipikal rumah ini adalah berbentuk panggung dengan tiang-tiang langsing. Sebelum menggunakan atap seng, seluruh material yang digunakan adalah kayu. Rumah contoh yang kami kunjungi nampak terlalu langsing dengan lantai yang berbunyi jika kami berjalan; lumayan ngeri juga jika ada yang berlari di dalamnya.
Detil khas Minahasa terlihat di railing pagar dan bukaan angin di atas jendela. Selebihnya, penampilan rumah ini mirip dengan rumah panggung pada umumnya. Untuk sebuah rumah panggung ukuran 7x8m, Pak Gerzon menghargai Rp. 96juta, tidak termasuk biaya pengemasan dan pengiriman. Ini sudah termasuk sebuah gazebo cantik tapi minus kamar mandi. Wah berabe juga ya rumah tanpa kamar mandi…
Dari Woloan, kami berkendara selama kurang lebih satu jam menuju Waruga, situs kubur tertua di Minahasa. Situs ini terletak di Sawangan, kecamatan Airmadidi, kabupaten Minahasa. Untuk bisa masuk, silakan mengunjungi rumah juru kunci yang terletak di dekat pintu masuk Waruga. Jika biasanya juru kunci adalah pria, maka Ibu Oltje Kambong (35) sudah duapuluh tahun menjaga Waruga ini.
Dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih, Ibu Oltje menjelaskan sejarah situs yang sudah ada sejak tahun 1600-an ini serta bagaimana usaha pemerintah untuk menjaganya dari kepunahan. Yang menarik, jasad yang disimpan dalam kubur batu ini diletakkan dalam posisi terduduk agar tidak lekas lelah dalam perjalanan menuju surga. Kalau busa atau pegas sudah dikenal jaman itu, kursi busa pasti ada di dalam tiap-tiap kubur batu ini.
Waruga berasal dari dua kata yakni Waru yang artinya rumah dan Ruga artinya badan. Jadi, secara gamblang, Waruga adalah rumah tempat badan yang (mudah-mudahan) kembali ke surga. Waruga yang masih tersisa di lokasi ini sebanyak 104 dotu alias marga. Sayangnya, dari 104 dotu tersebut, hanya beberapa puluh saja yang ter-diidentifikasi, misalnya Wenas, Karamoy, Kalalo, Tangkudung, Rorimpandey, Mantiri, Kojongian dan lainnya. Kalo ada dotu Rompas atau Pangemanan, pasti mbak Ina dan mbak Debby malah sibuk tabur bunga kali, hehehe.
Di luar lokasi Waruga ada sebuah rumah berisi koleksi benda-benda yang ditemukan dalam Waruga yang sempat diselamatkan. Layaknya kubur jaman dahulu, tiap kubur dibekali dengan perhiasan, alat makan dan alat perlindungan diri (kecuali handphone, nanti mengganggu sinyal pesawat; bukannya nyampe surga malah neraka, kayak Adam Air, hehehe). Ssst, konon Ratu Beatrix dan Ratu Juliana pernah datang ke tempat ini lho, kira-kira mereka ngapain ya?
Perjalanan selanjutnya kami menuju Bukit Kasih yang terletak di Kanonang. Perjalanan mengelilingi danau Tondano sangat mengesankan. Danau terbesar di Sulawesi Utara ini tampak tenang dengan airnya yang biru. Pemerintah daerah nampaknya belum terlalu mengeksploitasi lokasi ini karena konon hanya ada satu restoran, satu tempat wisata (Remboken) dan sebuah resor. Kesemuanya dalam kondisi alakadarnya. Kami terpaksa melewatkan restoran Tumou Tou karena masih kenyang, namun kabarnya menu di restoran ini cukup menjanjikan.
Setelah lepas dari Tondano, akhirnya kami tiba di kawasan Kanonang, tepatnya di sebuah bukit kapur dengan sumber air panas alami yang masih mengepulkan asap berbau belerang. Bukit Kasih, dinamakan demikian sebagai simbol kerukunan umat beragama di Minahasa.
Ketika masuk, pengunjung akan disambut dengan sebuah tugu setinggi kurang lebih 25 meter, bersegi lima dengan bagian bawah masing-masing sisi berisikan doa yang dicuplik dari kitab suci kelima agama yang diakui. Nampaknya, yang perlu ke sini adalah orang-orang asing yang terlanjur berpikiran miring tentang kerukunan di Indonesia.
Di kaki dan punggung bukit, ada lima situs doa yang bisa dipergunakan umat kelima agama untuk berdoa. Jalan menuju kelima situs ini cukup mudah dilalui, hanya saja tanjakannya cukup curam. Disarankan agar melalui jalur sebelah kanan yang lebih landai untuk naik dan turun melalui jalur sebelah kiri.
Ketika ditawarkan untuk berdoa, saya melengos. “Di Jakarta dengan tempat ibadah persis di depan rumah saja malas, apalagi harus naik-naik gunung?” jawab saya sekenanya sambil mengunyah kacang tanah Kawangkoan di sebuah pondok yang juga menjual pisang goreng.
Setelah kenyang (makan, bukan berdoa), kami berkendara menuju Kawangkoan, tepatnya rumah kopi Gembira, persis di depan pasar Kawangkoan. Yang terkenal dari bangunan yang mengingatkan saya dengan Ragusa di samping Istiqlal, Jakarta ini adalah biapong atau bakpau-nya. Ada dua jenis, yaitu yang berisi ba’ (babi) atau temo (kacang merah).
Dimakan panas-panas, biapong Gembira cukup lezat dimakan bersama kopi lokal dari kebun di Kotamubagu. Selain itu ada pia berisi kacang hijau yang nampak lebih menarik saya. Tak lupa saya membeli satu ons kopi Kotamubagu yang sedap itu cukup dengan merogoh Rp. 6.000.
Malam tiba dan kami mendapatkan kabar tuan rumah kami menyiapkan menu yang menggiurkan: cakalang, tikus dan paniki dibumbu rica. Perjalanan pulang kami isi dengan khayalan betapa lezatnya makan malam kami, yang ternyata memang tak salah…

Hari 4

Bosan dengan sejuknya kawasan pegunungan, pagi ini kami menjadwalkan untuk berganti hawa: menuju pulau Bunaken.
Pulau Bunaken dapat dicapai dari beberapa lokasi. Jika menggunakan jasa div-op berbasis di Manado, maka umumnya mereka menawarkan paket one-day trip tanpa menginap. Namun jika menggunakan jasa div-op berbasis di Pulau Bunaken atau ingin mencarter sendiri, maka pelabuhan Pasar Jengki adalah tempat menanti dan mencari perahu yang akan mengantar kita ke Bunaken.
Awalnya kami hendak menggunakan perahu reguler agar bisa berinteraksi langsung dengan penduduk pulau Bunaken. Sayangnya, jadwal berangkat perahu yang biasa disebut taksi air itu antara jam 3-5 sore dari Pasar jengki dan jam 8 – 10 dari Kampung Bunaken. Karena tidak ingin membuang waktu, kami mencarter perahu bermesin satu dengan tarif yang sangat murah: Rp. 200.000 untuk pulang balik ditambah bonus snorkeling di tiga spot.
Perjalanan menuju Bunaken bervariasi dari 30 menit sampai dengan dua jam, tergantung jenis perahu yang digunakan serta titik keberangkatan dan ketibaan. Perahu carteran kami berjalan lumayan santai (baca: pelan) dan ujung jetty Taman Nasional Bunaken baru terlihat setelah satu jam mengarungi perairan. Namun sebelum turun, kami ditawarkan untuk mencarter catamaran, sebuah perahu panjang dengan kotak khusus berdasar kaca untuk melihat dasar laut. Setelah bernegosiasi, kami membayar Rp. 150,000 untuk perjalanan selama kurang lebih satu jam menyusuri lokasi menyelam mulai dari Lekuan sampai dengan Muka Kampung.
Pemandangan indah segera terpampang di depan mata kami. Ikan-ikan berukuran kecil dan sedang hilir mudik menyaingi laju catamaran. Di beberapa lokasi, terlihat koral yang tiba-tiba seolah menghilang digantikan birunya air. Menurut pengemudi catamaran kami, lokasi itu namanya wall atau dinding laut, sebuah struktur laut yang tiba-tiba berubah orientasi vertikal. Jika menyelam atau snorkeling, biasanya ditandai dengan perbedaan suhu air. Wah, makin penasaran untuk menyelam nih.
Setelah puas, catamaran berhenti di lokasi menyelam yang disebut Muka Kampung, mungkin karena di kejauhan sana terlihat perkampungan nelayan lengkap dengan gereja dan mesjidnya. Saya dan Mbak Debby meninggalkan Mbak Ina yang tidak ikut snorkeling di catamaran.
Ini adalah snorkeling pertama mbak Debby dan kesekian kalinya untuk saya. Namun, kesulitan menyesuaikan dengan masker baru sempat menghalangi keasyikan saya bersnorkeling. Beberapa kali saya berhenti dan mengatur letak masker yang tidak pas.
Untunglah Muka Kampung dengan wall-nya dipenuhi koral hidup berwarna-warni beserta ikan-ikannya. Saya sempat beberapa kali menemukan ikan kakaktua berukuran sedang berwarna biru dan hijau.
Bunaken yang terkenal sebagai lokasi menyelam sebenarnya sudah dapat dinikmati cukup dengan snorkeling, sebab di kedalaman satu sampai empat meter saja sudah bisa ditemukan ikan-ikan cantik dan koral yang indah. Untuk yang belum cukup, ada banyak lokasi menyelam yang ditawarkan pulau ini. Beberapa memiliki kontur sloping atau miring dan lainnya justru terkenal dengan keindahan wall-nya. Di kedalaman dan lokasi tertentu bisa dijumpai ikan dan binatang laut seperti pari, hiu, belut mooray dan penyu.
“Pagi ini cukup snorkeling dulu, anggap saja pendahuluan untuk menyelam siang ini” begitu pikir saya.
Sialnya, sinus saya tiba-tibak kambuh. Hidung tiba-tiba mampet dan kening, seperti biasa, sakit luar biasa. Setelah makan siang nasi kuning Saroja yang kami beli sebelum berangkat ke Bunaken, saya berkonsultasi dengan Om Randy, calon instruktur menyelam sekaligus pemilik cottage tempat kami akan menginap malamnya. Dia menyarankan agar kegiatan menyelam saya ditunda menunggu sinus reda; snorkeling saja masih diijinkan.
Dengan sedikit kecewa, kami menanti perahu yang telah kami carter yang sialnya tidak datang-datang. Untunglah ada perahu yang akan berangkat menuju sisi lain Bunaken dan mau kami tumpangi untuk mengantar ke lokasi snorkeling.
Berbekal senyum dan terimakasih, saya dan mbak Debby nyemplung. Agak ragu sebenarnya saya, sebab kening masih nyut-nyut walau tidak sehebat tadi. Setelah berputar-putar, akhirnya saya memutuskan untuk berenang balik ke tepi pantai. Mbak Debby sempat kesal karena saya terlalu cepat bersnorkeling. Apa mau dikata, daripada makin sakit, besok malah makin gak bisa menyelam lagi. Dari tepi pantai, mbak Ina teriak, “Kok udahan?” Saya cuma tersenyum kecut.
Siangnya kami habiskan dengan bersantai-santai di tepi pantai di depan cottage kami. Bunaken yang terkenal dengan kehidupan bawah lautnya sayangnya tidak diimbangi dengan pantai yang memadai. Pantai yang pendek dan berwarna coklat di sisi dalam lekukan pulau bahkan dipenuhi tumbuhan pantai di sela-sela pasir berlumpur. Sampah, baik alami maupun buangan manusia, nampak di sana-sini. Well, jika yang sebegini saja sudah menyedot perhatian turis internasional, bagaimana jika dilengkapi dengan pantai putih yang bersih?
Menjelang sore, kami berjalan menuju jetty Taman Nasional dengan menyusur garis pantai yang sudah makin naik akibat pasang. Pulau Bunaken yang berbentuk seperti bumerang ini memiliki dua sisi, sisi dalam lekukan dan sisi luar. Sebagian besar resort komersil terletak di sisi dalam lekukan. Uniknya, resor disini umumnya mengenakan tarif per pax alias per kepala, termasuk penginapan, makan tiga kali dan antar jemput. Tarif yang ditawarkan mulai dari Rp. 125,000 sampai dengan hampir Rp. 500,000 per kepala per malam.
Di sekitar jetty Taman Nasional yang merupakan pintu masuk resmi ada beberapa bangunan yang digunakan sebagai tempat training kelautan bagi siswa sekolah menengah. Namun yang lebih mencolok justru kios-kios yang menjual suvenir dan kaus serta kain bermotifkan Bunaken.
Untuk masuk Taman Nasional Bunaken, dikenakan retribusi sebesar Rp. 2,500 per kepala untuk turis lokal dan Rp. 50,000 untuk turis asing. Jika melalui div-op, biasanya tiket masuk ini sudah termasuk paket. Anehnya, kami yang tidak ikut div-op apapun, tidak diharuskan membayar apapun ketika tiba.
Matahari sore itu nampak bersahabat dan sangat cantik di tengah langit yang dibingkai awan. Semburat sinar matahari terbenam membentuk pantulan sempurna di perairan Bunaken, meninggalkan pemandangan yang sulit dilupakan.

Hari 5

Kekenyangan dengan seekor besar cakalang bakar yang disiapkan Tante Anna, istri Om Randy, kami tidur begitu pulas sampai ketinggalan melihat matahari terbit. Tanpa pikir panjang, kami kembali menyusur pantai ke arah jetty. Pagi ini, saya tersadar bahwa cottage Om Randy terletak di urutan paling ujung dari deretan resort dini Bunaken.
Kami sarapan pisang goreng di salah satu warung di sekitar jetty. Pagi itu suasana sekitar jetty sangat ramai. Baru saja ada sebuah perahu besar merapat mengeluarkan rombongan sekitar empat puluh siswa taman kanak-kanak beserta dengan orang tua dan guru-gurunya. Riuh rendah suara anak-anak yang berlarian mengiringi makan pagi kami. Tak lupa saya bertanya sana-sini untuk mencari tumpangan perahu yang akan mengantar kami siang ini kembali ke Manado sebab perahu carteran kami sudah benar-benar raib alias tak bisa dihubungi.
Sebenarnya kami mengharapkan kembali siang hari setelah makan siang, namun apa daya, ada seorang pengemudi perahu div-op terkenal di pulau Bunaken yang menawarkan mengangkut kami pukul 10 pagi. Untungnya, biaya yang dikenakan murah banget, hanya Rp. 15,000 per kepala. Syaratnya, jangan bayar di depan bule yang satu perahu dengan kami. Cingcai lah…
Setelah deal, jadilah kami tergopoh-gopoh kembali ke cottage karena ternyata jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi sementara kami belum mandi apalagi berkemas. Walau sempat putus asa, akhirnya kami duduk dengan manis di perahu panjang bermesin tiga itu. Dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit, kami tiba di pelabuhan Pasar Jengki.
Saya sempat celingak-celinguk di tepi pelabuhan, mencari oknum supir perahu yang dengan teganya meninggalkan kami di Bunaken. Untunglah tidak ada, kalau ketemu mungkin sudah saya semprot habis-habisan.
Agenda kami hari ini adalah menuju Tangkoko, berburu Tarsius si primata mini. Karena perjalanan yang lumayan jauh, kami memutuskan untuk mengisi perut dahulu di rumah makan Miangas yang terkenal dengan jajan pasarnya dan es campur-nya.
Benar saja, dari pintu rumah makan yang sangat humble itu sudah terlihat lemari kaca berisi berbagai jajanan yang menggugah selera. Sebut saja lumpia, dadar gulung hijau, panada, pastel, apang bakar, kue mangkok, kue paco-paco, kue suse (sus), apang, kue lapis berbagai warna, kue ku, risoles, dan wajik ketan membuat saya ngiler bukan kepalang.
Seperti biasa, mata kadang bisa lebih lapar daripada perut, apalagi perut saya yang memang kapasitasnya lebih kecil dibandingkan rata-rata. Setelah dua potong pastel saja, langsung terasa kenyang. Ditambah es campur yang seperti oasis di tengah panasnya kota Manado dan gohu pepaya muda yang segar itu, perut saya segera penuh. “Jajan” kali ini lebih dari cukup untuk mengganjal perut sampai sore nanti.
Jalur ke Bitung awalnya sama dengan dengan menuju ke bandara hingga akhirnya bercabang dua, kami mengambil jalur kanan. Bitung adalah sebuah kotamadya yang terletak di bagian bawan peninsula Sulawesi Utara. Sebagai kota pelabuhan utama di propinsi ini, Bitung juga menjadi sentra utama berbagai industri seperti kopra dan pemrosesan ikan.
Kami menuju daerah Kolongan, perbatasan Bitung – Manado, menuju rumah kerabat mbak Ina yang berjanji menyediakan tempat gratis untuk kami menginap. Setelah tiba, kami segera bergegas menuju Tangkoko, kawasan hutan lindung yang menjadi rumah bagi hewan endemik Tarsius.
Konon berburu Tarsius gampang-gampang susah, sebab ukuran binatang ini cukup kecil dan ia sanggup melompat sejauh enam meter. Karena perburuan baru akan dimulai sore menjelang malam, kami memutuskan untuk pergi ke pantai Batu Putih terlebih dahulu.
Pantai ini sebenarnya bagian dari Batu Putih Resort yang nampaknya masih enggan mengelola lokasi ini. Di papan petunjuk di pos pintu masuk tertulis ongkos masuk Rp. 25,000 termasuk makan (kalo harga ini benar, hebat ya?). Tapi bagaimana kami mau bayar jika tidak ada orang yang menunggui pos itu?
Pantai Batu Putih sendiri tidak terlalu istimewa. Pasir putihnya kasar dan terlalu lunak hingga menyulitkan berjalan. Di tepi pantai yang lumayan pendek itu berderet batu-batu berukuran cukup besar. Di salah satu sudut pantai, ada lempeng batu yang cukup besar membentuk ceruk hingga akhirnya terlihat seperti sebuah laguna. Yang istimewa adalah akhirnya saya berhasil melihat ombak!
Kami menghabiskan waktu tak lebih dari setengah jam untuk kemudian balik menuju Tangkoko. Masuk ke kawasan Tangkoko kami berpapasan dengan sebuah mobil bermotif zebra yang berhenti di sebuah bangunan mirip pos jaga. Saya sempat mengusulkan untuk bertanya ke pengemudi mobil itu lokasi tepat hutan Tangkoko ini.
Hutan lindung Tangkoko adalah hutan subtropik-tropik yang terbentang antara dua puncak gunung kembar Dua Saudara (entah ya, saudara kandung atau tiri!). Di hutan seluas 3,196 hektar ini, kalau beruntung kita bisa menjumpai kera hitam, burung maleo, babi hutan, burung enggang, rusa dan tentu saja … Tarsius. Wah, jadi makin nggak sabar nih!
Sayangnya, informasi yang kurang akurat malah mengantar kami ke pintu masuk hutan kota, bukan hutan lindung Tangkoko. Dari keterangan penduduk sekitar, untuk berburu Tarsius harus mendaftar di pos jaga yang, coba tebak, ternyata pos dengan mobil bermotif zebra yang sempat saya usulkan untuk ditanyai.
Agak kecewa juga, sebab perjalanan balik ke pos jaga memakan waktu tak kurang dari setengah jam sementara jam di tangan menunjukkan pukul empat sore. Kami akan terlambat memulai tur jika harus berbalik kembali.
Dengan berat hati, kami meneruskan perjalanan menuju pusat kota dan pelabuhan Bitung. Kekecewaan kami sempat terbayar dengan pemandangan kota Bitung yang sangat bersih hingga sempat dianugerahi Adipura. Saking bersihnya, manusia yang lalu lalang di tepi jalan pun bisa dihitung dengan jari.
Pelabuhan Bitung dibagi dua, pelabuhan barang dan pelabuhan penumpang. Pelabuhan penumpang dapat diakses melalui sebuah komplek ruko yang namanya tidak jelas hingga cukup dipanggil Ruko. Pelabuhan dengan kondisi cukup memadai ini melayani jalur Bitung – Lembeh – Bitung. Ada juga beberapa kapal besar yang konon melayani rute lebih jauh misalnya Sangihe Talaud, Ternate, dll.
Sore ini kami mencari informasi mengenai transportasi menuju Pulau Lembeh. Informasi yang simpang siur mengenai jadwal keberangkatan perahu umum Bitung – Lembeh dan sebaliknya sempat membuat frustasi hingga akhirnya kami pulang tanpa ketetapan hati.

Hari 6

Kekecewaan tidak melihat Tarsius masih harus ditambah dengan pengalaman pagi itu di pelabuhan penumpang Bitung. Sementara mbak Ina dan mbak Debby pergi ke gereja, saya memberanikan diri naik angkutan umum menuju Bitung untuk mencari tahu sendiri rute perahu umum di sana. Dari Kolongan, saya menumpang bis ukuran kecil menuju terminal Tangkoko, kemudian disambung dengan angkot biru menuju pusat kota.
Ternyata, kecuali Lembeh Resot, resort di pulau Lembeh berada di tepi luar pulau dan tidak ada perahu umum yang melayani rute tersebut karena pada umumnya div-op dan pengelola resort memiliki perahu sendiri untuki menjemput tamu mereka.
Akhirnya saya menumpang angkot kembali menuju terminal Tangkoko untuk bertemu dengan kedua rekan saya. Untuk membayar kekecewaan kemarin dan hari ini, kami memutuskan untuk pergi ke kawasan Tandukrusa, tempat sebuah kebun binatang mini dengan salah satu koleksinya adalah si … Tarsius.
Dengan men-charter angkot, kami menyusuri kembali jalur menuju pusat kota Bitung. Setelah pagi ini, rasanya saya sudah terlalu familiar dengan jalur ini. Di ujung kota, Mas Nunuk yang katanya baru 18 tahun tapi istrinya sedang hamil ini (wah, hebat euy!), membelokkan angkot birunya ke arah kiri melewati jalur menanjak sampai akhirnya tiba di sebuah kawasan wisata tepi pantai bernama Tandukrusa.
Benar saja, setelah membayar Rp. 25.000 per mobil, kami segera melihat dengan mata sendiri lucunya primata terkecil dunia ini. Dengan ukuran tubuh sebesar telapak tangan, sepasang mata besarnya membuat Tarsius terlihat seperti tokoh komik Jepang. Binatang nocturnal ini nampaknya nyaman berada di kerangkeng berisi pohon murbei ini. Enam ekor segera berlompatan dan bergelantungan di satu cabang pohon ketika seorang pengunjung menakut-nakuti mereka.
Uniknya, buku-buku jari Tarsius mirip dengan jari manusia. Bahkan, ketika saya sempat merekam acara santap belalang salah satu Tarsius, terlihat jelas betapa tindak-tanduk binatang ini mirip dengan manusia.
Puas melihat Tarsius dan beberapa binatang lainnya, kami berniat balik ke kota Bitung. Namun, atas saran seorang teman perjalanan kami lanjutkan naik ke atas lagi menuju Kungkungan Bay Resort.
Konon, resort ini memiliki sebauh restoran dengan pemandangan koral dan ikan yang biasanya baru bisa dilihat dengan menyelam atau snorkeling. Wah.
Di pintu masuk resor, kami sempat diinterogasi oleh penjaga. Mereka bilang, resor ini hanya diperbolehkan untuk turis asing karena seluruh menu restoran dan tarif lainnya dalam dolar dan untuk makan di restoran ada minimal spending sebesar Rp. 40,000.
Kami yang tak pernah ditolak masuk ke tempat manapun kecuali Istana Negara sempat naik darah atas diskriminasi seperti ini. Mbak Ina yang paling kesal bahkan sempat ingin mengeluarkan kartu kredit gold-nya. Sabar, sabar…
Benar saja, restoran tempat kami makan ini berada di atas pantai dengan koleksi koral yang masih hidup dan menjadi rumah bagi ikan hias seperti ikan kakatua, sirip kuning, ikan pisau bahkan, yap, Nemo si ikan badut! Pemandangan yang jadi hadiah yang luar biasa buat Mbak Ina yang tidak sempat bersnorkeling ini sedikit banyak menjawab kenapa resto ini ngelarang orang Indonesia datang: sebab turis lokal kan banyak yang jorok, tangannya gatal ngasih makan ikan, padahal kan malah ngerusak habitat alami ikan dan koral di sini. Huh!
Menu di resto ini jadi terasa sangat biasa dibanding semua makanan yang kita lahap di Manado, apalagi nama dan citarasanya “bule” banget; jadilah kita makan cuma sebagai syarat. Lagi asyik makan (baca: melototin ikan), tiba-tiba “plung!”. Kita bertiga kaget dan langsung nengok ke arah Mas Nunuk yang nongkrong (catet, kaki diangkat satu!) di meja ujung dan lagi asyik ngelemparin tulang ayam ke ikan-ikan di bawah. Duh, ngurut dada deh…
Puas dengan pemandangan indah ini, kami bergegas kembali ke Kolongan. Omong-omong, ternyata angka di bill yang kami terima jauh melebihi minimum spending tuh! Makanya, biar naik angkot dan pake sendal jepit, dompet kita dihiasi kartu kredit gold, tau! Jangan macem-macem deh.
Oya, kalo mau pake jasa Mas Nunuk, doi cukup bisa direkomendasi lho. Soal gaya, mas kita ini juga gak kalah. Lihat aja foto kita di depan angkot sebelum ber-say goodbye. Mantap!

Hari 7

Setelah dua hari puas dengan pantai, kami kembali akan menghirup udara sejuk. Agenda kami hari ini adalah menyusuri danau Tondano dan jika memungkinkan melihatnya dari salah satu bukit di sekelilingnya.
Tergoda oleh rekomendasi teman dan relasi, sebelum berangkat, pagi ini kami menyempatkan sarapan pagi di Gardenia, sebuah penginapan bergaya alami yang teletak tak jauh dari tempat kami menginap di Tomohon.
Mengusung tema country inn, Gardenia adalah sebuah boutique hotel dengan delapan bungalow tersebar di lahan seluas empat hektar dengan pemandangan langsung ke Gunung Lokon. Sesuai dengan namanya, kami disambut dengan rimbunnya gardenia dengan bunganya yang cuma satu biji, hehehe. Biar satu tapi wanginya kuat banget lho.
Pantas saja, ternyata bunga gardenianya sudah dipetik dan dirangkai di ruang tamu dan kamar mandi. Berjalan menyusuri pekarangan rumah, kami berhenti di kafe Gardenia, berjumpa dengan Bapak Leonard dan Ibu Bernadeth, pemilik dan pengelola hotel ini.
Ibu Bernadeth yang ternyata ketua Asbindo (Asosiasi Bunga Indonesia) chapter Sulawesi Utara ini segera menjadi menjadi teman berbincang yang klop dengan saya dan teman-teman. Rupanya, Ibu Bernadeth ini hobi ngobrol. Sebagai ganjarannya, sarapan kami berupa pisang goroho rebus dan tiga cangkir coklat panas diberikan pro bono alias gratis. Makasih…
Dari Gardenia, kami langsung menuju salah satu bukit di tepi danau Tondano. Bukit bernama Lembean Lestari ini ternyata milik salah seorang kerabat dari, tebak, mbak Ina. Dari lokasi parkir, kami harus ngos-ngosan berjalan sekitar 500 meter naik menuju sebuah rumah bambu tempat beristirahat pekerja kebun. Dari sini, pemandangan danau Tondano terlihat jauh lebih cantik (dan luas!).
Setelah puas, kami turun dan menyusuri tepi danau untuk makan siang di restoran Tumou Tou. Restoran di atas danau ini mengandalkan menu ikan mas dan ikan mujaernya beserta ikan nike (iya, nike yang itu!) goreng. Dalam sekejap, seluruh menu telah kami habisi. Kebetulan hari itu tidak terlalu ramai, jadi kami sempat bersantai-santai dan mengambil foto di restoran ini. Sayangnya, kami nggak jabani tuh Remboken, obyek wisata satu-satunya di Tondano. Habis, gak ada yang merekomendasikan sih.
Sisa hari kami pergunakan untuk berkeliling sekitar daerah ini dengan beberapa kali mengunjungi kediaman kerabat. Sst, mbak Debby pulang membawa sekantung manggis. Ckckck…
Malam ini kami langsung menuju kota Manado. Mbak Debby menginap di rumah keluarganya di daera Kanaka, sementara saya dan mbak Ina menginap di rumah keluarga mbak Ina yang sangat dekat dari boulevard dan, tentu saja, tepi pantai.

Hari 8

Udara panas kota Manado tidak terlalu nyaman untuk beristirahat. Beberapa kali saya terbangun dan menantikan pagi datang. Ketika akhirnya datang, saya dan mbak Ina segera bergegas mengejar sunrise di tepi pantai di belakang Mega Mall (iya, saya juga sebenernya udah bosen dengan mall…)
Walau tak terkejar dan keburu tinggi, matahari sungguh bersahabat hari ini. Kami ngobrol ngalor ngidul kurang lebih satu jam di pinggir pantai minus pasir itu. Ajaibnya, pantai ini masih jadi tempat yang aman bagi segerombolan ikan hias berwarna-warni yang saya kira hanya bisa hidup jauh dari bangunan modern dan aktifitas warga kota.
Hari ini kami hanya ingin menghabiskan waktu bersantai dan mengeksplor kota Manado. Oleh karena itu, seperti biasa, kami bergegas menuju Pasar Jengki untuk melihat kesibukan pasar tradisional di tepi pantai itu.
Entah ada chemistry apa antara saya dengan pasar tradisional. Begitu melangkah masuk, saya langsung merasakan energi yang luar biasa. Berada di antara riuh-rendahnya suara penjual dan pembeli yang saling bersahutan, aroma amis ikan dan segarnya sayuran bahkan bakasang – terasi khas Manado – malah membuat saya makin bergairah untuk menyambangi satu demi satu kios.
Tak perduli dengan kaki dan sandal yang kotor karena beberapa kali terkena genangan air berwarna hitam, saya sempa miris melihat ikan kakaktua masih dengan sisik biru-nya terbujur kaku siap diperjualbelikan. Sementara di ujung satu lagi ikan tuna dan kerapu berukuran ekstra besar memukau mata.
Di sudut lain, tumpukan cakalang fufu (asap) lengkap dengan gepe (jepit bambu)–nya terlihat terlalu menggiurkan untuk dilewati. Setelah tawar menawar, mbak Ina memutuskan untuk membeli satu gepe untuk oleh-oleh.
Di ujung paling luar, tumpukan rica (cabai) rawit merah, lemon cui, bawang merah dan jahe merah mengundang tangan untuk meraih dan menyentuh.
Sesuai perkiraan, kami menenteng pulang bungkusan berisi cakalang fufu, lemon cui, jahe merah sebagai oleh-oleh. Perut yang berbunyi mengisyaratkan kami untuk segera mencari pengganjal. Kami menuju pasar Kanaka untuk mencicipi kue-kue tradisional Manado. Di sini, saya dan mbak Ina bertemu mbak Debby yang juga berniat sama. Setelah selesai, kami menumpang delman untuk menuju nasi kuning Saroja dan Wakeke.
Di Saroja, saya sempatkan untuk menyelesaikan pelajaran membungkus nasi kuning racikan Hj Salmah (mudah-mudahan namanya benar) dari Gorontalo dengan pelepah daun kelapa muda. Sukses, dan sayapun diberi harga spesial. Lumayan.
Menjelang sore, kami kembali menuju pantai di belakang Mega Mall untuk menyaksikan sunset sebab konon sunset di lokasi ini hampir sempurna. Saya telah siapkan kamera untuk merekam proses pergantian siang dan malam itu. Sukses, saya mendapatkan gambar yang cantik beserta dengan rekaman saat matahari masih setengah bulat hingga akhirnya benar-benar tersembunyi di balik horizon.
Malam yang indah, saya menghabiskannya dengan membayangkan kegiatan saya esok hari: menyelam! Tapi sedih juga, sebab mbak Ina dan mbak Debby harus balik ke Jakarta besok sementara saya masih punya dua hari di Manado.

Hari 9

Pagi-pagi saya sudah berkemas menuju pantai Molas. Menumpang angkot menuju pasar Jengki, disambung dengan angkot menuju Wonasa dan akhirnya ojek sampai tiba di depan NDC, total hanya delapan ribu lima ratus rupiah.
Dibandingkan Murex dan Thalasse, tarif introduction dive di NDC relatif lebih murah. Selain itu, karena menyebutkan milist backpacker, saya masih dapat diskon 10 persen.
Ini adalah pengalaman pertama saya nyemplung dan masuk ke dalam laut. Sempat kecut juga, apalagi ternyata di dalam grup saya yang terdiri dari delapan orang plus satu guide itu semuanya adalah penyelam bersertifikat bahkan tiga orang adalah divemaster. Ckckck…
Untunglah kak Luther, guide dari NDC meyakinkan saya bahwa menyelam di laut itu mudah. Saya sih percaya aja, lah wong sudah tanggung di tengah laut lengkap dengan wet suit. Ajaibnya, kak Luther tidak memberi petunjuk teknis apapun sampai saya benar-benar nyemplung ke laut. Di sana baru ia menjelaskan teknik masker control (membuang air dari masker), pressure control (menyesuaikan tekanan tubuh dengan kedalaman), buoyancy control (naik turun di dalam air), bahasa isyarat selama di dalam air, dan lain-lain yang terus terang saya sudah lupa sekarang, hehehe…
Untunglah saya tak sempat takut apalagi panik, sedikit tegang mungkin sebab sejatinya saya masih trauma dengan kejadian tiga belas tahun lalu ketika meyaksikan teman yang tewas tenggelam di depan mata.
Kak Luther benar-benar guide dan instruktur yang jempolan, sebab saya tak diberi kesempatan sedikitpun untuk takut. Hanya saja, beberapa kali saya salah merespon bahasa isyarat-nya. Ketika melingkarkan jempol dan telunjuk, saya malah mengacungkan jempol. Padahal maksud saya sebenarnya, everything is okay. Hehehe … maklum, pemula!
Penyelaman pertama di Lekuan 1 saya berhasil menjelajah sampai kedalaman empat meter selama kurang lebih dua puluh menit. Kesan pertama saya, wow! Ketika snorkeling, saya sempat berusaha mengejar dan menagkap ikan yang hilir mudik di depan mata, dan tentu saja tidak bisa. Ketika menyelam, walau tetap saja tidak bisa, namun jarak mereka nampak makin dekat dan makin nyata.
Ketika ahirnya harus naik dan berjumpa dengan Marco dan Adrian serta Jefrey dan rombongannya, mereka menanyakan kesan pertama saya menyelam. Tak ada kata lain selain, amazing! Norak ya, tapi nggak apa apa lah, toh cuma saya yang masih junior di antara semuanya. Saya yakin mereka maklum.
Pada penyelaman di Lekuan 3 saya harus sudah bisa menguasa teknik buoyancy (naik-turun di dalam air) sebab di lokasi ini saya akan menyelam lebih dalam, sekitar 6-7 meter. Kali ini, kak Luther juga mengajarkan teknik terjun backroll. Tidak ada yang terlalu sulit, bahkan saya tak perlu mengulangnya.
Namun kesulitan kali ini ya … naik dan turun di dalam air. Untuk latihan, Kak Luther mengajak saya mengelilingi dan menyusuri tali pengikat kapal. Lumayan efektif, beberapa kali harus berpegang tali ketika turun, namun saya akhirnya bisa melepas pegangan ketika harus naik. Di menit ke dua puluh, saya akhirnya berhasil menikmati pemandangan yang kali ini lebih menakjubkan. Apalagi ketika diijinkan untuk menyusuri tebing menyerupai payung dengan koleksi karang cantik melambai-lambai. Dan hei, ada Nemo alias si ikan badut!
Sayangnya, dari jauh kak Luther mengisyaratkan untuk naik ke atas agar masih tersisa cukup nitrogen untuk penyelaman berikutnya.
Setelah penyelaman kedua ini, dengan bangga saya sudah bisa berbagi cerita dengan Marco dan Adrian. Tak perduli dengan cerita mereka yang sebenarnya lebih menarik, saya nyerocos terus menceritakan tiap detil yang saya lihat. Narsis abis…
Setelah makan siang, perahu kami menuju Muka Kampung yang terkenal dengan wall-nya. Kali ini Kak Luther tidak memberikan guide langsung melainkan hanya menyelam di sekitar saya. Ia juga berpesan agar hemat-hemat memakai persediaan nitrogen.
OK! Dan saya kembali turun dengan perasaan sangat excited. Padahal, rencana rekan yang lain terdengar jauh lebih menarik: mengambil foto, merekam video bahkan berburu penyu di kedalaman duapuluh sampai tiga puluh. Saya cuma bisa nyengir, ngiri!
Wall yang ketika snorkeling hanya bisa saya lihat, akhirnya kali ini saya sambangi langsung. Koral di wall ini jauh lebih berwarna, lebih beragam ukurannya dengan ikan yang tak kalah ramai seolah berebut perhatian. Ketika melihat pengukur kedalaman, saya perhatikan saya sudah menyelam sepuluh meter. Sempat ingin nekat dan turun lagi, tapi saya lihat di kejauhan Kak Luther mengacung-acungkan jempol menginstruksikan saya segera naik.
Dengan berat hati, perlahan saya naik meninggalkan rekan-rekan lain yang terlihat jauh di bawah sana. Karena belum puas, akhirnya saya melepas tabung dan berbekal snorkel dan pelampung saya malah hilirmudik di sekitar lokasi penyelaman tadi. Eits, ternyata Marco juga sudah sibuk bersnorkeling mencari gambar. Akhirnya, penyelaman hari itu saya tutup dengan bersorkeling total selama empat puluh menit.

Hari 9

Seolah tak puas bersnorkeling di Bunaken, pagi-pagi saya segera naik angkutan umum menuju, lagi-lagi, Lembeh. Kalo ini, saya akan benar-benar backpack tanpa mencarter perahu untuk sekedar snorkeling di perairan Lembah yang konon lebih beragam kehidupan bawah lautnya dibanding Bunaken.
Naik perahu umum dari Ruko, saya tiba di kawasan pemukiman tepat di samping tugu Trikora. Karena perjalanan menanjak, saya menumpang ojek untuk menuju tugu Trikora. Dari sini, saya melihat sekeliling lokasi untuk bersnorkeling. Nampak di sebelah kiri ada tebing yang tak terlalu tinggi dengan dasar air yang sangat hijau. Saya berjalan kaki selama kurang lebih tiga puluh menit untuk menuju tempat itu.
Tapi tololnya, saya lupa bawa pelampung. Jika bareng dengan teman-teman mungkin pelampung jadi opsional, tapi karena saya sendiri, rasanya pelampung kok jadi mandatory ya.
Bermodal, lagi-lagi, senyum dan nekat, saya menghampiri seorang nelayan untuk meminjam pelampungnya. Selain dipinjamkan pelampung, bapak yang saya lupa namanya ini berbaik hati mengantar saya ke lokasi snorkeling. Memang, malu bertanya rugi jadinya.
Eh, tapi kok laju perahunya malah ke arah berlawanan dari yang saya inginkan? Wah, akhirnya saya minta diturunkan di tengah jalan dan … berenang sejauh kurang lebih seratus meter menuju lokasi snorkeling. Phew … capek juga.
Makanya, ketika akhirnya nyampe saya mengapung saja mengumpulkan tenaga bermodal pelampung. Memang benar, di kedalaman tiga – empat meter, perairan Lembah lebih rapat denga terumbu dan ikan-ikan yang lebih ramai walau dalam ukuran kecil.
Sebenarnya saya sempat kecut jika harus bertemu ikan atau binatang berbahaya, apalagi saya sendiri. Tapi untunglah, yang saya takuti tak terjadi. Dan lagi lagi, saya berjumpa Nemo si ikan badut dalam jumlah lebih banyak bermain-main di dalam terumbu. Di kejauhan, nampak binatang yang saya yakin seekor penyu kecil berenang menjauh.
Melirik jam tangan, nampaknya saya sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam di air. Mengingat belum sarapan dan sudah lewat jam makan siang, saya putuskan untuk berenang ke tepi yang ternyata tidak semudah yang saya kira.
Karena keasyikan melihat-lihat ke bawah tanpa memperhatikan keadaan di depan saya, tak disangka kedalaman di bawah saya sudah mencapai kurang dari satu meter, sementara koral dan ikan di bawah sana masih penuh. Sekuat tenaga saya berputar balik menghindari membentur koral sekaligus merusak mereka. Setelah melepas masker sesaat, busyet, ternyata saya salah arah!
Mestinya saya bergerak lurus malah terbawa arus ke kiri ke arah perkampungan nelayan yang di ujungnya ada keramba ikan. Kalau keterusan mungkin saya akan menghantam jaring dan sukses ngendon di jaring keramba, hehehe.
Bekal roti yang saya bawa habis dalam hitungan detik, begitu juga dengan air minum yang tinggal setengah botol. Saya sempatkan berdiam beberapa saat di sekitar tugu Trikora menikmati semilir angin laut. Tak terasa, saya sudah hampir satu setengah jam di sekitar tugu, persis di bawah sayap pesawat yang konon sudah ada sejak tugu ini dibangun.
Selama perjalanan kembali, saya kembali mengulang ingatan selama snorkeling di selat Lembeh sambil bercita-cita, suatu saat saya harus menyelam di sisi lain pulau ini.

Hari 11

Saya sempat sedih dan berat hati menyambut hari ini karena saya harus pulang ke Jakarta. Sebagai perpisahan, saya nongkrong lagi di tepi pantai di belakang boulevard.
Selamat jalan, Manado! Suatu saat saya akan kembali ke sini, menikmati alam bawah lautmu tentunya dengan berbekal sebuah sertifikat menyelam, supaya angka sepuluh bisa nambah jadi dua puluh, tigapuluh, dan seterusnya…

Ps: dalam hal menyelam, nampaknya, “pernah” pelan-pelan berubah menjadi “suka” nih…

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.