Warung Kopi di Pontianak

Pemandangan Sungai Kapuas
Pemandangan Sungai Kapuas
Seorang teman dari Prancis pernah mengeluhkan sulitnya menemukan kafe luar ruangan yang nyaman di Jakarta. Tempat lepas dari dingin penyejuk ruangan yang tak lebih sehat dibanding hangat matahari.
Ayo pergi ke Pontianak. Tempat dimana nongkrong adalah sebuah aktifitas. Apalagi kafe, atau warung kopi seperti warga setempat sering menyebut, menjamur di seluruh pelosok kota tanpa kehilangan entitas sebagai tempat berinteraksi sosial.
Pontianak adalah satu dari sedikit kota dengan budaya warung kopi yang masih terjaga di Indonesia. Warung kopi (biasa disingkat WK) berbaris di pinggir jalan tanpa pembatas fisik yang kentara. Jika di Medan ada kawasan Kesawan dan Merdeka, di Surabaya ada Kya-Kya dan di Jakarta ada Jalan Sabang dan Menteng, maka di Pontianak warung kopi sedemikian populernya hingga tak cukup jika dikumpulkan dalam satu area.
Menu di setiap WK bisa dibilang seragam, jadi pelancong seperti saya tak perlu repot mendatangi seluruh WK di pontianak. Dari seluruh menu kuliner di Pontianak, yang harus dicicipi adalah pisang goreng srikaya yang kondangnya sampai ke Jakarta. Pisang goreng di sini tidak sebesar saudaranya di Jakarta. Pisangnya sendiri lebih manis, apalagi ditambah olesan saus srikaya yang legit. Walau dijual di seluruh kota, pisang goreng di Jalan Gajah Mada dan di Jalan Patimura jadi pilihan saya.
Teralkuturasi dengan budaya Melayu dan Timur Tengah, saya pun sempat mencicipi kari lengkap dengan roti canenya. Makanan satu ini termasuk jarang ditemukan di Pontianak. Roti Cane ala Baba Jie, begitu namanya, masih satu lokasi dengan pisang goreng di Jalan Pattimura. Kari yang tidak terlalu kental dengan rempah yang menggigit mengingatkan saya ketika berkunjung ke Pakistan. Sangat otentik! Apalagi roti cane-nya pun garing layaknya baru diangkat dari tungku.
Di kota ini juga ada sejenis tinutuan dalam versi yang lebih sederhana namun tak kalah lezatnya. Bubur udang dan bubur babi, sebagai pelengkap bubur ayam dan bubur ikan. Pastinya, saya hanya mencoba bubur udang. Bubur sangat encer (terlihat genangan kaldu di atas buburnya) dengan beberapa gulungan udang, bayam dan tongcai ini nikmat disantap untuk sarapan atau pengganjal perut tengah malam. Ditemani telur pitan (telur ayam berwarna hitam), kerupuk dan sambal yang pedas, dijamin mampu menendang pelupuk mata yang masih mengantuk.
Di malam terakhir di Pontianak, saya akhirnya merasakan esensi liburan yang menyenangkan: duduk-duduk di warung kopi, mendengarkan musik melayu sambil menonton orang-orang dan kendaraan lalu lalang ditemani kopi susu dan pisang goreng srikaya, minus asap kendaraan. Ah, nikmatnya.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.