Ke Ujung Kulon Minus Badak

Pulau Peucang

Dari perjalanan yang pernah kita lalui, berapa banyak yang mengajak menyelami arti berpikiran terbuka?

Jumat, penghujung April 2007, beberapa saat sebelum malam akhir pekan dimulai. Iseng, saya browsing milist indobackpacker. “Trip ke Ujung Kulon”. Dalam pikiran segera terbayang melihat badak di habitat aslinya. Pasti menarik.

TN Ujung Kulon (TN-UK) biasa dicapai dari dua lokasi; Sumur atau Taman Jaya. Kami memilih yang terakhir, delapan jam dari Jakarta melintasi jalur darat yang rasanya lebih cocok dilalui kendaraan offroad.

Taman Jaya adalah desa terakhir sebelum memasuki kawasan TN-UK. Karena posisinya, penduduk desa telah terbiasa menerima wisatawan. Salah satunya adalah homestay Sundajaya yang kami jadikan tempat untuk beristirahat.

Sabtu pagi kami disambut kemeriahan pelelangan ikan di perkampungan nelayan suku Makassar, tak jauh dari Sundajaya. Beberapa bocah riang berlarian menyelusup bangunan semi permanen, mengisi udara beraroma anyir dari ikan-ikan yang siap dilelang.

Kapal-kapal motor merapat disambut penuh sukacita oleh wanita-wanita paruh baya. Tanpa dikomando, mereka mengerubuti keranjang bambu berisi ikan segar hasil tangkapan semalam. Ikan favorit, seperti kuwe, kakap, tuna, berpindah tangan dalam hitungan menit.

Puas melihat aktifitas pelelangan, kami bersiap untuk perjalanan melintas taman nasional, membuka jalan dan memasang tenda. Bertemu badak. Namun di luar perkiraan, perjalanan justru dimulai dengan kapal motor.

Ya, kami akan melaut. Bukan badak yang diburu, tapi ikan, terumbu dan pantai. Di tengah kebingungan, saya sempat menghibur diri, “Pasti akan ada banyak hal yang menyenangkan selama perjalanan ini”.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pemanggangan. Kano yang kami dayung menyusuri sungai Cikabembem, membelah lebatnya mangrove. Hutan bakau seperti ini sejatinya adalah habitat sempurna untuk burung air, monyet dan biawak, namun tak satupun yang kami temui.

Peucang, pulau berikutnya yang kami singgahi, sangat kontras dibandingkan Pemanggangan. Salah satu pulau terindah dengan pantai berpasir putih dan air biru kehijauan, Peucang juga memiliki fasilitas terlengkap di kawasan TN-UK. Akomodasi, diving center dan tim pemandu cuma beberapa di antaranya.

Menjejakkan kaki di pantai pulau Peucang, saya langsung teringat pantai Lombang, Madura dengan pantai luas, vegetasi rimbun, pasir putih nan lembut dan udara yang hangat mengundang. Seekor rusa menyambut kami malu-malu, memuaskan keingintahuannya.

Air laut di depan mata membuat kami tak sabar untuk menceburkan diri. Apalagi pantai landai di samping dermaga pulau ini minus karang; lokasi yang pas untuk menjadikan kulit coklat eksotis. Beberapa teman langsung bersnorkeling menjelajah tepian pantai. Sayangnya, walau bening, kehidupan laut di bawah air pantai ini ternyata kurang berwarna.

Untunglah kami dihibur dengan koleksi koleksi satwa liar yang menarik, seperti banteng dan merak di Pulau Cidaun. Sayangnya, badak yang masih saya harapkan tak jua terlihat.

Tak terasa, matahari telah condong ke barat. Kami bergegas menuju lokasi bermalam di pulau Cibom, dua-tiga jam dari pulau Cidaun. Malam yang senyap di Cibom kami habiskan dengan ngobrol hingga larut sambil ditemani nyamuk pantai yang ganas dengan irama konser yang terdengar mematikan di telinga.

Pagi hari, kami mengeksplor pulau ini dengan trekking santai menyusur tepi pulau menuju lokasi mercusuar kembar di timur. Pulau yang dijaga oleh seorang jagawana dan penduduk pulau ini sudah dipergunakan sejak akhir abad 19, ketika mercusuar pertama dibangun. Struktur besi mercusuar ini menyiratkan teknik konstruksi yang cukup canggih untuk masa itu. Beberapa dari kami memanjat hingga ke puncak, dimana sebuah lampu besar biasa memandu kapal yang lewat. Hembusan angin di ketinggian kurang lebih 60 meter ini cukup kuat hingga sesekali terdengar keriutan baut di beberapa titik sambungan yang telah berkarat.

Pemandangan di bawah sana sungguh menakjubkan. Pulau-pulau kecil di sekeliling Cibom nampak bergugus di sebelah barat. Ujung timur pulau yang berbentuk semenanjung batu karang tak lelah menahan deras menciptakan buih putih tebal. Di atas karang inilah, mercusuar yang satunya berdiri.

Kami melanjutkan menyusur pulau menuju mercusuar kedua. Sebuah pemandangan mirip lukisan terpampang di depan mata; tanah lapang berumput hijau dan langit biru di atasnya, membingkai gugusan karang yang membentang seperti layar. Nampaknya, dari sinilah nama Tanjung Layar didapat.

Tak jauh dari Cibom, kami melanjutkan berlayar menuju pulau Cidaun dengan terumbu dan ikan hias yang lebih menarik dibandingkan Peucang. Dicapai beberapa jam dari Cibom, kami harus berenang dari kapal sebelam bisa menyaksikan drama kehidupan bawah air yang meriah. Ikan dan terumbu berukuran sedang dan kecil ramai mencipta lanskap.

Di pulau terakhir, kami akhirnya berhasil menemukan kompleks terumbu yang paling menarik. Pulau Badul. Pulau teramat kecil yang titik tertingginya kurang dari dua meter ini lebih mirip gundukan pasir yang ditumbuhi tanaman liar. Tapi, yang kami cari ada di bawah sana. Kehidupan bawah air pulau ini bisa jadi yang paling menarik di antara seluruh pulau yang kami kunjungi.

Laut yang tenang membuat kami betah di pulau ini. Selain snorkeling, beberapa teman memilih bersantai di atas pasir yang hangat atau mencari kerang yang banyak bertebaran di sekitar pulau.

Matahari sudah menusuk ubun-ubun hingga ke perut. Ikan laut dan sambal pedas sungguh pasangan yang pas menemani nasi panas, mengembalikan energi setelah lelah bermain air.

Walau tak bertemu badak ujung kulon, pesona pantai dan kehidupan laut di kawasan TN-UK ini menambah daftar tempat eksotis untuk menghabiskan akhir pekan. Dan, sekali lagi, perubahan rencana perjalanan tak jarang membawa pengalaman baru lebih dari yang direncanakan.

Pagi di Taman Jaya Anak Sekolah Taman Jaya Pagi di Taman Jaya Pembeli Ikan Taman Jaya Anak Nelayan Taman Jaya Boatman Rusa Pulau Peucang Pantai Pulau Peucang Pantai Pulau Peucang Pulau Peucang Cidaon Boatmen Cibom Cibom Tanjung Layar Tanjung Layar Tanjung Layar Tanjung Layar Tanjung Layar Tanjung Layar Pulau Badul 20070428-23-ujungkulon-cibom

20070428-24-ujungkulon-paucang

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.