Mengintip Matahari Pertama di Bromo

Sunrise di Bromo

Walau ketinggian bukan tempat favorit saya, namun perjalanan bisnis ke kota Malang menyisakan weekend yang sayang jika hanya dihabiskan di Jakarta. Setelah sebelumnya mengontak seorang rekan yang terbiasa dengan petualangan alam, kami memutuskan untuk bertemu dan menjelajah kawasan Bromo.

Menggunakan kendaraan umum, kami berangkat dari terminal bis Arjosari, Malang pukul 2 siang menuju Probolinggo. Perjalanan selama dua setengah jam melewati kota cantik Pasuruan yang ternyata memiliki deretan bangunan lama yang sangat inspiratif. Jika tidak diwanti-wanti agar tiba di Probolinggo sebelum pukul 5, mungkin kami akan berhenti sebentar sekaligus mencicipi soto/sup komoh yang konon terkenal lezat itu. 

Sampai di terminal Bayuagung Probolinggo, kami langsung berganti kendaraan sejenis van yang di Jakarta lebih dikenal dengan elf.  Saran saya, sebaiknya Anda menawar ongkos yang bisa sampai sepuluh ribu rupiah ke ujung perjalanan di CemoroLawang, dari ongkos normal lima belas ribu. Namun percaya deh, uang sebesar itu tidak akan terlalu mahal karena perjalanan Anda akan ditemani hamparan bukit-bukit hijau terutama selepas Sukapura. Jika Anda berkendara sendiri, lebih baik memilih waktu siang sampai sore atau pagi agar bisa menikmati kelokan bukit2 ini.

Atas saran seorang teman, kami menginap di hotel Yoschi yang terletak di antara Sukapura-CemoroLawang. Hotel bernuansa alami dan kekeluargaan ini lebih sering disinggahi mereka yang memang jatuh hati dengan pengalaman bertualang di alam bebas. Jadi jika Anda telah terbiasa dengan hotel yang lebih nyaman, saya sarankan menginap di hotel lain sepanjang jalur ini, misalnya Grand Bromo atau Lava View yang nampaknya akan jadi tempat singgah saya jika ada kesempatan ke tempat ini lagi.

Hotel Yoschi memiliki tiga tipe kamar: ekonomis, standar dan vila/bungalow. Kami memilih tipe standar yang setelah didiskon, rate-nya cuma seratus ribu diluar pajak dan sarapan pagi. Untuk akomodasi semurah itu, jelas tidak banyak yang bisa diceritakan selain kamar yang benar2 shabby alias ndeso. Untungnya, staf dan lokasi yang strategis bikin kami lebih betah tinggal di hotel itu. Oleh karena itu kami bergegas tidur karena harus bangun pukul tiga pagi untuk mengejar sunrise yang terkenal cantik itu.

Pukul tiga pagi kami sudah siap dengan perlengkapan utama: jaket tebal, syal, penutup kepala dan tentu saja kamera. Kami lupa membawa sarung tangan, namun staf hotel menyarankan kami membelinya di CemoroLawang seharga tidak lebih dari tiga ribu rupiah.

Satu hal penting lagi, perjalanan menuju Bromo akan lebih murah jika ada minimal empat orang dalam kelompok Anda. Hal ini dikarenakan ongkos sewa jip yang lumayan mahal, 200-250ribu per mobil.

Perjalanan di pagi buta itu tidak terlalu banyak yang bisa dilihat karena keadaan yang sangat gelap. Satu-satunya yang menarik perhatian saya adalah pemukiman warga Hindu Tengger di sekitar CemoroLawang yang lebih modern dari yang perkiraan saya.

Sebelum masuk ke area Bromo yang telah ditetapkan sebagai taman nasional ini, Anda diharuskan membayar tiga ribu rupiah per penumpang (walau ternyata setelah saya lihat tertera dua ribu rupiah di karcis masuk) dan seribu rupiah untuk mobil. Rute kami hari itu adalah rute standar yaitu gunung Penanjakan untuk melihat sunrise, turun ke dataran pasir, berkuda ke kaki gunung Bromo dilanjutkan dengan menaiki anakn tangga dan berdiam sebentar di bibir kawahnya untuk kemudian diakhiri ke sabana di sekitar dataran itu.

Jalan menuju gunung Penanjakan sangat tidak bersahabat untuk kendaraan bergardan dua. Untunglah supir jip hartop yang kami sewa sudah hampir sepuluh tahun mengantar turis baik lokal maupun asing jadi saya tidak perlu khawatir dengan jalan batu yang berkelok 180derajat.

Sepanjang perjalanan mendaki itu, hanya sesekali saja kami bisa melepas pegangan tangan di mobil ketika jalan melandai. Selebihnya adalah jalan menanjak yang cukup curam. Untunglah akhirnya perjalanan selama kurang lebih satu jam itu diakhiri puncak gunung Penanjakan yang merupakan puncak tertinggi kedua setelah Semeru di kompleks pegunungan Bromo. Dari titik pengamatan itu, telah terlihat gunung Batok yang hijau cantik, gunung Bromo dengan mulut kawahnya yang lebar serta di kejauhan gunung Semeru yang tak henti2nya mengepulkan asap. Ada beberapa gunung lain di kompleks itu terutama di bibir kompleks yang membentuk dinding.

Setelah hampir satu jam menunggu ditemani udara menggigit, akhirnya semburat merah perlahan menyelimuti bagian timur di sela-sela hamparan awan yang menyerupai karpet tebal itu. Sayangnya kamera yang saya bawa tidak cukup canggih untuk menangkap datanya matahari pagi itu. Namun, pengalaman menakjubkan itu rasanya saja sudah cukup bagi saya.

Ketika perlahan sinar matahari menggantikan gelapnya subuh, akhirnya tampaklah dengan jelas susunan gunung-gunung yang sangat indah dengan karakteristiknya masing-masing. Batok dengan lajur-lajur hijaunya serta puncak landainya yang konon dipergunakan untuk terjun payung. Bromo dengan kawah lebarnya dan kepulan asap yang bersaing dengan awan yang menyeliputinya. Serta Semeru dengan asapnya yang tak hendti nampak menjulang di kejauhan layaknya naga penjaga yang sedang terbatuk-batuk.

Setelah lepas pukul enam, kami telah puas melihat pemandangan di kompleks ini. Saatnya beranjak mendekat gunung Bromo. Bagi Anda yang hobi mencari lokasi pemotretan, kami sarankan untuk memperhatikan sisi kiri-kanan perjalanan turun karena kadang di beberpa tempat pemandangan lebih jelas terlihat.

Setelah sampai di dataran pasir, kami memarkir jip di dekat sebuah kompleks sembahyang umat Hindu Tengger yang pagi sebelumnya menghilang tertutup awan tebal. Perjalanan dilanjutkan dengan menunggang kuda dengan membayar empat puluh ribu rupiah untuk perjalananan ke dan dari tangga menuju bibir kawah Bromo. Sampai disini saya sarankan Anda untuk beristirahat sejenak sebelum menaiki 250 anak tangga yang sebenarnya kurang nyaman didaki.

Namun Andapun tak salah jika tak sabar karena begitu tiba di bibir kawah, ketakutan saya akan ketinggian kali ini benar2 diuji. Dinding kawah yang sangat curam sempat membuat saya limbung dan berhenti sebentar untuk kemudian mengalihkan pandangan ke arah kepulan asap yang keluar dari celah2 kawah berselimut belerang tebal itu. Asap yang cukup tebal membentuk bayangan hitam di satu sis kawah. Tanpa memperdulikan pemandangan dibawah segera saya arahkan lensa kamera ke sekita bibir kompleks gunung Bromo.

Walau jam  baru menunjukkan pukul 7 pagi, matahari sudah sangat royal membagikan hangat sinarnya. Oleh karena itu, kami bergegas turun untuk melanjutkan perjalanan. Sayangnya, jadwal penerbangan yang tidak bersahabat membuat kami harus menunda keinginan kami ke sabana yang konon sangat luas itu.

Rute yang sama dengan perjalanan sebelumnya ternyata menyimpan banyak pemandangan yang menyejukkan hati. Melihat kebun sayur mayur di sisi kiri-kanan jalan mengingatkan saya akan daerah Bandung utara.

Perjalanan hari itu kami tutup dengan sarapan pagi di hotel ditemani kabut yang sesekali mampir dan masuk ke halaman hotel. Walau masih ada beberapa tempat yang belum kami kunjungi, sungguh perjalanan kali ini berkesan. Saya berjanji akan segera ikut terapi untuk menghilangkan ketakutan saya akan ketinggian agar di lain waktu bisa menjajal terjun payung dari puncak gunung Batok.

After the sunrise After the sunrise Tertutup awan Negeri di atas awan Pura masyarakat Tengger Pura masyarakat Tengger Perkebunn di sekitar Bromo Kawah Bromo Sabana di Bromo

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.