Maaf, di Luar Akhir Pekan: Tutup

Tak sedikit yang bisa dilihat di Jakarta. Buat penikmat sejarah dan bangunan bercerita, kawasan Kota Tua Jakarta tak pernah gagal menebar pesonanya. Sayangnya, beberapa bangunan di kawasan ini kondisinya memprihatinkan karena, salah satu alasannya, tak lagi dipergunakan.

Museum Sejarah Jakarta

Padahal, sebagai contoh, di beberapa kota di Inggris, kawasan terbengkalai – sebagian besar penuh dengan bangunan bersejarah – direvitalisasi dengan cara, tebak, dipergunakan kembali.

Merchant City di Glasgow digagas oleh pemerintah menjadi pusat wisata belanja dan hiburan terbesar di Inggris setelah West End, London tanpa merusak fisiknya – merujuk sejarah asli kawasan ini yang memang sebagai kawasan komersil (link).

Watershed (link) di Bristol, dari pelabuhan tua tempat kapal-kapal dari Asia dan Afrika menurunkan budak-budak untuk diperdagangkan kembali di Eropa, berbenah menjadi salah satu pusat multimedia, film dan animasi Inggris.

Memelihara bangunan tua memang tidak murah. Menarik iuran dari pengunjung bukan solusi jangka panjang. Revitalisasi mungkin salah satu jawabannya.

Sebagai wedding dan party organizer, pasti saya akan mendukung klien yang mau menggunakan plaza di depan Museum Sejarah Jakarta untuk pesta pernikahan. Atau acara ulang tahun malam hari di bantaran (istilah kerennya: riverside) Kali Besar dengan tempat nongkrong penuh cahaya. Dan seterusnya.

Intinya, harus ada kegiatan komersil yang tidak merusak namun justru menghidupkan kawasan ini. Tentunya, ada PR lain yang mengikuti niatan ini: kebersihan, keamanan, kenyamanan dan akses menuju tempat ini. 

Dengan sebegitu banyak bangunan yang masih tersisa, kapan kawasan Kota Tua Jakarta punya ciri khasnya sendiri sehingga hidup, bukan cuma sebagai kawasan turis yang mati (baca: tutup) di luar akhir pekan?

Atap Jembatan Intan Gedung Detail Indah di Gedung-gedung Tua  
Gedung Tua Jembatan Intan Jembatan Intan Angkot Rumah Merah?
Detail Indah di Gedung-gedung Tua Detail Indah di Gedung-gedung Tua Detail Indah di Gedung-gedung Tua Gedung Tua yang Tak Terawat  
1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Thoughts
Being a minority

When a nut meets its proper bolt or the two pieces of puzzle properly attached, things may seemed ideal. And this ‘ideal fit’ can be quickly perceived as truth. Worse, like a bird born in cage believing that flying is bad, a person born and grew up with given idea will believe that it is the only true idea. Traveling to places where I became part of its minority challenged me to re-question and redefine what constitutes to true and ‘truth.’

Travel
Jangan Jual Keramahan Kami

Pertanyaan ingin tahu seperti “Sedang apa di sini?”, “Penelitian ya?” atau “Jual apa?” mewarnai perbincangan saya selama perjalanan di Nusa Tenggara Timur. Terlalu sering hingga kadang bikin saya bosan menjawab. Padahal keingintahuan ini ternyata tak lebih dari keramahan orang NTT. Ternyata yang dibutuhkan sungguh sederhana: lepas “kacamata turis”.

Travel
2
Cerita dari Secangkir Nasgithel

Hidup itu meriah. Penuh warna. Penuh rasa. Penuh pilihan. Tak heran, ketika traveling, sebisa mungkin saya melarutkan diri dalam kebiasaan penduduk setempat minum teh atau kopi. Teh dan kopi pula yang berada dalam daftar oleh-oleh kuliner saya. Tak hanya aroma dan rasanya yang layak dibicarakan, tapi juga beragam kebiasaan, sejarah hingga romansa yang larut dalam panas, legi (manis) dan kenthel (nasgithel) nya kedua minuman ini.